Attention Please.....

Mau ngebaca cerpen seru dari kita berdua??

Nyari info-info up date soal film-film korea???

makanya baca blog kita dulu okay


Senin, 28 Maret 2011

by : Mega




  Pernahkah kamu merasakan cinta pertama? Itu pasti hal terindah yang pernah kamu alami sepanjang hidup kamu.. detak jantungmu akan berdebar begitu cepat ketika ia berada di dekatmu atau pipimu akan merona ketika ia memanggil namamu. Pengalaman tersebut tidak akan terjadi dua kali.. dan kamu pasti akan meraih cinta pertamamu itu. Tapi bagaimana jika cinta pertamamu adalah sahabatmu sendiri? Seseorang yang selalu kamu temui setiap hari dan selalu berbagi cerita denganmu? Apalagi bercerita mengenai seseorang yang dia suka, ketika itu kamu dituntut untuk tersenyum dan memberikan dukungan pada sahabat yang kamu cintai, sakitkah rasanya?
Itulah yang terjadi padaku. Sejak kelas 1 SMP aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri, Yoga!. Pertemuan pertamaku dengannya ketika kami sama-sama mengikuti klub basket di sekolah. Dari basketlah aku mengenal sosoknya dan mulai bersahabat dengannya. Aku mencintainya bahkan lebih dari diriku sendiri, ketika aku menutup mata wajahnyalah yang selalu hadir dalam kegelapan hatiku. Cintaku padanya membuatku rela melakukan apa saja.. bahkan karenanyalah aku memutuskan untuk tinggal bersama Ayah dan Ibu tiriku dan meninggalkan Ibuku yang tinggal di Amerika.
Sejak SD kedua orangtuaku telah bercerai, mereka memutuskan berpisah karena Ibuku tidak ingin tinggal di Indonesia, khususnya Bandung.. ia berencana untuk menghabiskan hidupnya untuk tinggal di Amerika yang juga kampung halamannya. Sedangkan Ayahku, ingin tinggal di Indonesia karena Ayahku tidak cocok dengan kehidupan Amerika, dan tidak fasih berbahasa inggris. Akhirnya mereka bercerai dan Ibuku mendapatkan hak asuh atas diriku.
Hingga sekarang, aku masih cemas karena meninggalkan Ibuku di Negara yang jauh sendirian. Berbeda dengan Ayahku yang setelah bercerai, 2 tahun kemudian memutuskan menikah lagi. Ibuku tidak memiliki rencana untuk menikah lagi, ia senang dengan kesendiriannya!!. Tapi entah kenapa, karena cintalah aku rela mengorbankan Ibuku, memang benar Cinta membuat seseorang menjadi gila.
“ Kemarin Ibumu telephon ya, Tya?” Tanya Ayahku ketika kami sedang makan malam
“ Apa dia masih membujukmu untuk tinggal bersamanya lagi?”
“ Mmm” Jawabku seadanya
“ Terus?” Tanya Ayahku lagi. Sepertinya Ia tidak puas dengan jawabanku yang pendek
“ Aku ingin tinggal disini” Jelasku
“Tya, Tante dan Ayahmu menemukan mobil yang bagus buatmu… jika kamu suka Tante akan membelikannya untukmu”  Ibu tiriku mengalihkan topik pembicaraan.
“ Tidak, Tante aku suka mobilku yang sekarang”
Ayahku menikah dengan teman kecilnya, Ana. Setelah bercerai dengan Ibuku, Ayahku mulai dekat lagi dengan Ana yang kebetulan bekerja ditempat yang sama dengan Ayahku , yang bekerja di sebuah Bank swasta dan akhirnya berlabuh pada pernikahan. Sejak Ayahku menikah lagi, aku memutuskan untuk tidak memanggil Ana dengan sebutan Mama. Karena bagiku Ibuku tetaplah satu. Aku tau Ana berharap aku memanggilnya Mama, tapi jika aku memanggilnya seperti itu hanya akan membuat Ibuku sedih.
“ Tapi mobilmu kan hanyalah mobil bekas, lagipula katamu Mobil itu sering mogok. Mumpung sekarang lagi ada uang, Tante belikan mobil baru kan tidak ada salahnya, Tya”
“Biar mogok, Mobilku kupikir masih bagus… aku sudah cocok dengan mobilku”
Ana, tidak membantahku lagi. Ia memahami sifatku yang keras kepala dan selalu tegas pada keputusanku. Itulah aku.
Dan kami melanjutkan makan malam dengan keheningan. Begitu makan malamku habis aku langsung bergegas masuk kamar. Mengambil tas keperluan mandiku dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku memandang wajahku dicermin sambil menyisir rambutku yang lembap dan kusut. Memandang pantulan wajahku dicermin, membuat hatiku terasa pedih. Secara fisik aku tak pernah cocok. Kulitku putih, mataku hitam bulat, tubuhku selalu langsing, namun tinggi badanku tidak cocok terlihat sebagai atlit basket yang identik memiliki postur yang tinggi. Sedangkan Yoga menyukai perempuan yang bermata coklat, tubuh yang sedikit berisi, badan yang tinggi dan kulit yang sawo matang.. khas orang Bandung.
Ketika libur semester aku memutuskan untuk berjemur di Bali, tapi kulitku tidak hitam-hitam juga padahal aku berjemur selama 3 jam, makanku banyak tapi badanku tidak pernah gemuk, setiap hari aku minum susu peninggi badan tapi tinggi badanku tetap saja 155 cm. tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku siap mencoba apapun asalkan Yoga bisa jatuh cinta padaku.
Aku menyantap sarapanku dengan ceria, memperhatikan debu-debu beterbangan diantara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang.  Ayahku dan Ana meneriakkan ucapan perpisahan, dan aku mendengar mobilnya menjauh. Setelah sarapanku habis aku lamgsung bergegas menuju sekolah.
Aku menjadi salah satu murid yang tiba pertama disekolah, aku bahkan tak sempat melihat jam ketika buru-buru meninggalkan rumah tadi. Aku duduk sendirian dikelas yang masih kosong. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat dan mulai mencoret-coret. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar wajah Yoga yang sedang memegang bola basket. Kuhapus gambar itu dengan penghapus.
“Tya!”
Bukan suara yang tidak kuharapkan yang memanggil namaku, dan aku mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang memanggil namaku. Sebenarnya tanpa mendongakpun aku sudah tau siapa dia, itu suara yang pasti akan kukenali dimana pun, kukenal dan kurespon.
Yoga.
Melihatnya membawa kelegaan dihatiku… seolah-olah tadi aku merasa sakit dan hampa tapi setelah melihat wajahnya perasaan itu mendadak lenyap.
“ Hai” aku tersenyum kecil padanya
Aku sudah mengenalnya selama 5 tahun lebih, tapi waktu selama itu tidak membuatku kebal terhadap kesempurnaan wajahnya. Mataku menyusuri garis-garis wajahnya yang putih, rahang perseginya yang kokoh, bibirnya yang lembut, garis hidungnya yang lurus, tulang pipinya yang tajam mencuat, rambut hitamnya yang agak berantakan dan matanya yang indah menatapku begitu hangat. Seolah-olah ia sebenarnya mencintaiku. Tapi tentu saja itu hanyalah harapanku saja.
“ Hari ini kamu ikutkan makan-makan di cafenya Rian? Yang lain mau pada ikut, mumpung besok hari sabtu sekolah kan libur. Refreshing dikit tidak ada salahnya, kan? Kita ini kelas 3 jadi butuh menyegarkan otak dengan kumpul-kumpul” katanya sambil duduk disebelah bangku ku yang kosong, membuat jantungku bernyanyi-nyanyi.
“ Akan kutanyakan pada Ayahku” aku tidak ingin minta izin pada Ayahku, tapi itu adalah sikap yang tidak baik apalagi Ayahku selalu khawatir jika aku pulang telat, ia tau setelah aku kelas 3 ia tidak mengizinkanku untuk aktif di klub basket dan menyuruhku untuk focus pada pelajaran dan persiapan kuliah. Mungkin pikirnya aku diam-diam kabur ke Amerika jika aku pulang telat tanpa memberi kabar.
“ Mungkin seharusnya aku mengingatkanmu..”
“ Ya”
“ Waktu kubilang yang lain maksudku… semua dan dia” senyuman menghiasi bibirnya ketika ia menyebut kata terakhir, membuat hatiku tercabik-cabik
“ Dia? Intan ikut?” tanyaku. Kedengarannya seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. Seolah-olah aku tersedak.
“ Iya, aku mengajaknya.. pasti akan menyenangkan jika ada dia”
Aku diam saja. Tidak semudah itu untuk tidak merasa sedih. Intan adalah gadis yang disukai Yoga sejak kelas 2 SMA. Intan berambut hitam keriting, bermata coklat, postur tubuhnya yang tinggi dan berisi. Dulunya Intan menjabat sebagai ketua osis di sekolah ini. Yoga pertama kali bertemu dengan Intan ketika Intan sedang melihat-lihat latihan klub basket. Pertama kali melihat Intan, Yoga sangat yakin bahwa Intan adalah tipenya baik secara fisik maupun sifatnya. Pembawaan Intan yang lembut, feminim namun tegas menjadikannya salah satu gadis populer di sekolah ini. Banyak lelaki yang menyukainya. Sudah 3 bulan ini Intan mulai akrab dengan Yoga bahkan Intan selalu datang jika Yoga sedang tanding basket, ia pasti datang untuk mendukungnya. Membuat perutku mulas dan hatiku semakin terluka.
“ Tentu, pasti akan menyenangkan jika ada dia” gumamku tidak jelas
“ Oke” ujarnya nyengir “ Hanya itu”
Dengan semangat, ia kembali ke kelasnya yang tepat disebelah kelasku. Aku memandang berkeliling dan menyadari kelasku sudah tidak kosong lagi. Setelah Yoga pergi, Ali dan Arsa menghampiriku.
“ Dia membicarakan lagi soal Intan ya?” tanya Ali sambil merangkul bahuku
Aku mengangguk lemah.
Ali dan Arsa adalah sahabatku. Ali sudah berteman denganku sejak aku SD. Ia paling memahamiku dan menyayangiku. Sedangkan Arsa, aku berteman dengannya sejak masuk SMA. Mereka berdua tau bagaimana perasaanku pada Yoga dan hanya pada merekalah atau lebih tepatnya pada Ali karena aku dan Arsa bersahabat belum lama ini berani mencurahkan perasaanku pada Yoga.
Kupandangi Ali. Ia tampan dan begitu hangat, setiap bersama Ali aku merasa sedikit nyaman bahkan sangat nyaman dan menjadi diriku sendiri mungkin itu karena aku sudah sangat mengenalnya. Aku berfikir perasaan nyamanku penyebab terbesarnya adalah Ali. Bukan hanya karena ia selalu senang bersamaku, atau bahwa ia tidak diam-diam melirikku dari sudut matanya. Pada dasarnya Ali memang periang, dan sifat periang itu terbawa lam dirinya seperti aura, menularkan pada siapapun yang kebetulan didekatnya.
“ Sudahlah. Aku akan menemanimu” Ali tersenyum padaku, senyum yang begitu hangat. Aku merasakan senyumku sendiri merekah, membalas senyumnya
“ Terima kasih” ucapku tulus. Jika Ali bersamaku setidaknya perasaan sedihku melihat Yoga bersama Intan akan sedikit mengobatiku.
“ Aku juga ikut” sergah Arsa yang merasa jengkel karena merasa terabaikan
“ Iya, makasih”
“ Bagaimana jika besok kita nonton film? Kudengar di bioskop banyak film-film bagus” ajak Ali semangat
“ Tentu” sahut Arsa antusias
“ Kau ikutkan, Tya?” tanya Ali dengan wajah yang lesu
“ Tentu” aku langsung menjawab. Aku tidak tega melukai hati Ali, kami sepertinya memiliki hubungan khusus yang aneh, kesedihan yang ia rasakan terasa juga dihatiku. Mungkin ini yang dinamakan sahabat sejati.
“ Jam berapa kita ketemuan?” tanya Arsa semangat. Arsa memang penggemar film, jadi tentu saja ia bersemangat dengan rencana kami. Maklum karena kelas 3 kami sibuk belajar untuk persiapan ujian jadi kami jarang bepergian.
“ Bagaimana kalo jam 11 langsung di depan bioskop? Kita nonton di PVJ” usul Ali bersemangat. “ Kau ingin ku jemput di rumahmu?” tambahnya dengan nada muram “ Atau kau ingin pergi sendirian?”
“ Lebih baik kita pergi bersama saja” lebih baik pergi bersama Ali agar Ayahku tidak curiga atau berfikir aku berbohong. “ Kau sendiri gimana, Arsa? Apa kamu ingin pergi bareng juga?”
“ Ok!!! Biar di bioskop kita tidak saling menunggu”
Tak lama bel langsung berbunyi. Arsa kembali ke bangkunya dengan semangat, sedangkan Ali menurunkan tangannya dari bahuku dan mengambil buku dari tas ranselnya. Sudah 2 tahun aku sekelas dan sebangku dengan Ali, rasanya aneh jika harus sebangku dengan orang lain. Apalagi Ali termasuk kategori pintar di kelas, jadi mudah saja bagiku untuk menanyakan soal yang sulit pada teman sebangkuku ini.
Aku mencoba berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaranku, tapi sebenarnya hatiku merasa sangat gelisah dan tidak nyaman. Aku sendiri tidak tau apa yang ku khawatirkan. Seperti ada sinyal yang sangat buruk untukku. Aku mencoba untuk tidak merasakan perasaan yang tidak nyaman itu dengan mengalihkan perhatian. Aku mempertimbangkan beberapa cara untuk mangkir di acara sepulang sekolah. Aku senang bisa menghabiskan hariku dengan Yoga, tapi pasti akan sangat menyebalkan dengan hadirnya Intan. Apalagi melihat kedekatan mereka.
Sepulang sekolah aku, Yoga, Ali, Arsa, Intan, Rian, Tomy dan Sarah langsung berangkat ke café yang jaraknya lumayan jauh dari sekolahku. Kami menggunakan mobil kami masing-masing. Kecuali Intan yang pergi bersama Yoga.
Sesampainya di depan café bukannya langsung masuk, aku malah diam dan termenung. Aku membungkuk, menempelkan wajahku ke kemudi dan mencoba untuk bernapas.
Aku benar-benar tidak ingin masuk kedalam, aku takut melihat kebersamaan Yoga dan Intan, aku malu mengakui kerapuhanku. Aku bertanya-tanya berapa lama ini akan berlangsung. Sampai kapan aku hanya bisa mencintai Yoga? Sampai kapan aku sanggup hidup melihat Yoga menyukai orang lain. Aku tidak ingin terlihat muram oleh teman-temanku, terutama Ali. Ia pasti bisa melihat kesedihanku.
Aku membentur-benturkan kepalaku ke kemudi, berusaha mengalihkan kepedihanku.
Aku ingat harus menelpon ayahku. Perhatian ini mengalihkanku sepenuhnya, membuatku lega. Aku mengambil ponsel dari tasku dan menelponnya.
Terdengar nada sambung. Teleponku langsung diangkat pada deringan kedua, sepertinya Ayahku hari ini tidak lupa membawa ponsel, padahal tadinya aku sudah berfikir akan telvon Ana.
“ Ada apa, Tya?” Tuntut Ayahku begitu mengangkat telponku
“ Apa aku tidak boleh menelpon Ayah kalau tidak ada masalah gawat?”
Ayahku terdiam sebentar. “ Kau tidak pernah menelponku sebelumnya. apa ada masalah?”
“ Itu karena Ayah sering lupa bawa HP” tukasku pelan “tidak. Aku hanya minta izin pulang telat karena ada acara kumpul-kumpul dengan teman-teman”
“ Teman? Bukan basket,kan?” Tanya Ayahku dengan nada curiga
“Tidak. Jika Ayah tidak percaya Ayah bisa datang kemari, aku ada di café Ryan.. ayah pernah kemari” saranku. Ngeri juga membayangkan Ayahku ikut bergabung bersama teman-temanku.
“ Ayah percaya padamu, sayang! Pergilah bermain dengan teman-temanmu. Sudah lama kamu tidak pergi main..” Ayahku diam sebentar kemudian melanjutkan, nadanya sedikit mengancam “ Kalo kamu pulang lebih dari jam 6, Ayah benar-benar akan kesana dan menyuruhmu pulang”
“ Ok” aku setuju dan langsung menutup HP ku. Dengan malas-malasan aku keluar dari mobil dan langsung masuk café.
Café itu tidak besar. Tempatnya agak di sudut, bangunannya kuno, tapi terawat. Diatas pintu masuk ada sebuah papan agak lapuk bertuliskan “Café de Ryan”. Café ini milik Ryan, ia memang berasal dari keluarga kaya. Sesekali Ryan mengajak kami untuk bermain di cafenya. Selain tempatnya nyaman dan tenang, makanannya pun enak dan harganya masih bisa di jangkau oleh saku siswi pada umumnya.
“ Kenapa baru datang?” tanya Sarah begitu aku duduk disebelahnya. Sarah adalah kekasih Ryan dan juga sahabatku. Ia juga mengetahui aku menyukai Yoga, tapi dia bukan tipe gadis yang senang bergosip, karena itu aku begitu mempercayainya.
Ryan,Tomy, Ali, Arsa, Intan dan Yoga sudah duduk disana. Tomy dan Ali asyik memainkan laptop mereka, Arsa sibuk membaca majalah film, Ali sedang mencoret-coret kertas, sedangkan Intan dan Yoga tengah asyik mengobrol berdua. Sesekali aku melihat Intan mencubit lengan Yoga. Membuat perutku mual, Sarah meremas bahuku Dengan sikap menyemangati.
“ Tadi aku minta izin Ayahku dulu”
“ Hai Cantik” sapa tomy dengan nada menggoda dan mengedipkan mata padaku. Aku hanya membalas senyum malu-malu dan ia langsung tertawa keras.
“ Kamu mau pesan apa Tya? Yang lain sudah pesan” Kata Ryan sambil menyerahkan menu padaku dan ia langsung duduk sambil menggenggam tangan Sarah.
“ Aku ingin es krim vanilla porsi besar” jawabku, Ryan langsung meneriakkan pesananku pada pelayan. Suaranya yang keras membuat tamu disitu memandangnya seolah-olah ia sinting, sampai-sampai Sarah menyenggol pundaknya sedikit keras.
Tak kuat dengan pemandangan akrab Yoga dan Intan, aku langsung berdiri dan bersandar di konter dan menonton film yang disiarkan. Kebetulan sedang acara olah raga. Aku mengambil satu roti perancis dikeranjang. Aku memandangi layar televise namun tatapan ku kosong. Sesekali aku mendengar suara tawa Intan dan Yoga atau nada manja dari Sarah dan Ryan membuat kupingku panas dan perutku mulas.
Ini lebih parah daripada film romantis mana pun, adegan itu begitu nyata mendendangkan kebahagiaan, kehidupan dan cinta. Kuletakkan rotiku dan kulipat kedua lenganku didadaku yang kosong. Kupandangi televise, berusaha mengabaikan momen intim mereka, serta luka hatiku sendiri yang berdenyut-denyut nyeri.
Aku bersukur karena perhatianku kemudian beralih pada Ali yang langsung berdiri disebelahku. Ali tidak berkata apa-apa. Ia menatapku, menunggu tangisanku tapi aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum padanya. Ia mendesah.
“ Rotinya enak” kuambil lagi rotiku dan mulai menggigitinya lagi. Dadaku terasa lebih enak begitu Ali berada disampingku.
“ Makan yang banyak”
Diam-diam aku melirik Yoga, ia sedang memandangku. Ketika tatapan kami bertemu ia tersenyum lembut padaku, tapi senyumnya tidak menyentuh matanya membuatku bertanya-tanya.
Setelah beberapa menit Ali kembali duduk di meja dan aku masih berdiri kaku di konter sambil memakan es krim vanilaku. Dari sudut mata kulihat Yoga berdiri dan menghampiriku. Jantungku berdebar begitu cepat, aku mencoba menenangkan diri, dan mencoba bernapas melalui mulutku.
“ Makan es krim kok belepotan gitu” ia tertawa mengejek sambil menyeka es krim yang belepotan di sudut bibirku. Ketika ia menyentuh wajahku, jarinya menyengatku bagaikan aliran listrik.
Aku mendongakkan kepala dan memandangi wajahnya. Ia balas menatapku. Sorot matanya begitu hangat dan senyumnya tulus. Aku merasakan aliran darah menyebar ke wajahku. Aku cepat-cepat menundukkan wajahku dan memakan lagi es krimku dengan sikap canggung. Ia tertawa pelan.
“ Kau cantik, mukamu yang merah itu membuatmu semakin lucu” godanya sambil memperhatikan wajahku.
“ Itu tidak lucu tau??! Untuk apa kau kesini? Intan kan disana” kataku ketus dan langsung menyesalinya, aku berharap ia disebelahku saja dan jangan kembali ke Intan. Aku mendongakkan kepala untuk memandang wajahnya. Wajahnya membuatku bingung.. ekspresinya sedih,nyaris terluka, sekaligus begitu menawan hingga keinginan menyentuhnya begitu kuat. Tapi kucengkram gelas es krim kuat-kuat hingga jariku kesakitan.
“ Kau ingin aku pergi?” tanyanya pelan
“ Kasihan dia” jawabanku tidak sesuai dengan hatiku. Diam-diam aku mencaci diriku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh?
Ia mengangkat bahunya, berbalik dan kembali duduk disebelah Intan. Intan diam-diam melirikku, tatapannya dingin dan marah. Aku ingin berpaling, tapi tatapannya memerangkapku. Dengan sekuat tenaga aku memalingkan wajahku begitu pun Intan. Aku kembali menatap televisi sambil mencoba menenangkan hatiku.  Setelah beberapa menit aku kembali duduk dan bergabung dengan teman-temanku, Sarah menyambutku dan tangannya yang bebas merangkul bahuku.
Perhatianku teralihkan pada obrolan khas laki-laki. Mereka asyik membicarakan tentang bagian-bagian motor. Sepertinya Arsa berniat untuk mengotak-atik sepeda motor butut miliknya. Sesekali aku ikut berbicara, aku sedikit tau mengenai motor jadi mudah saja bagiku untuk bergabung bersama mereka. Sarah hanya tersenyum sedangkan Intan terlihat sekali sangat bosan dengan topik ini. Diam-diam aku tersenyum mengejek padanya dan ia balas melotot padaku.
Kupandangi jam di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 5. Aku mendesah dan berdiri sambil mengenakan jaket dan tasku.
“ Kami membuatmu bosan, ya?” tanya Tomy, ekspresinya seperti meminta maaf
“ Tidak” dan aku memang tidak berbohong “ Aku harus pulang sebelum Ayahku memutuskan kemari dan menyeretku pulang”
Mereka semua tertawa. Semua kecuali Intan. Tapi ia terlihat puas mendengar kepergianku. Ingin sekali aku mencongkel matanya yang coklat itu. Tentu saja itu hanya keinginan yang tidak terpuaskan. Aku mendesah lagi.
“ Besok jadi kan?” tanya Arsa sebelum aku keluar dari pintu
“ Tentu”
“ Kemana?” tanya Yoga penasaran
“ Aku, Ali dan Tya berencana untuk nonton film besok. Kalian mau ikut?”
“ Tentu. Kau bagaimana Intan?” tanya yoga mencondongkan tubuhnya menghadap Intan
Intan hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepala.
“ Sampai besok kalau begitu” kataku, bergegas ke luar pintu.
Sambil berjalan menuju mobil aku menghela napas dalam-dalam. Besok akan menjadi hari yang melelahkan untukku. Padahal aku begitu antusias dengan acara besok, tapi perasaan itu lenyap begitu saja ketika Yoga mengajak Intan untuk pergi bersama kami. Ingin sekali aku memukul kepala Yoga keras-keras.
Aku sampai dirumah tepat waktu. Ayahku sudah menuungguku di depan pintu. Awalnya wajah Ayahku terlihat marah, tapi aku tersenyum padanya mengingatkan bahwa aku tidak telat dan Ayahku langsung tersenyum dan merangkul bahuku ketika aku menghampirinya dan kami masuk kerumah bersama-sama.
“ Bagaimana? Senang kumpul dengan teman-teman?” tanya Ayahku menuntunku ke ruang makan dan duduk di kursi. Ana sedang mengangkat ayam goreng dari wajan dan meletakkannya di atas tumpukan serbet kertas. Baunya harum sekali, membuat perutku keroncongan.
“ Ya senang” jawabku sambil memindahkan makanan ke meja. Ana tersenyum padaku.
“ Baguslah kalau begitu. Kalian ngapain?” tanya Ayahku curiga
Aku memutar bola mataku, Ayahku pasti berfikir yang tidak-tidak. “ Kami mengobrol dan aku tadi makan es krim vanilla porsi besar. Enak sekali lho! Ayah harus mencobanya”
“ Tentu”
Ayahku akhirnya berhenti bertanya saat mulai mengunyah makanan, tapi ia terus mengamati wajahku sambil makan.
Usai makan malam aku menyibukkan diri, membantu Ana membersihkan dapur, kemudian mengerjakan PR pelan-pelan di ruang depan sementara Ayahku dan Ana menonton acara komedi. Aku menunggu selama mungkin, tapi akhirnya Ayahku mengatakan malam sudah larut. Ketika aku tidak menjawab,ia bangkit, meregangkan otot, merangkul bahuku dan menuntunku ke kamar.
Aku tidak ingin hari ini berakhir. Aku terlalu takut menghadapi hari esok, namun jika aku memutuskan tidak ikut itu akan membuat yang lain khawatir dan aku tidak mau itu terjadi. Aku membuka laci disebelah tempat tidurku dan mengambil sebuah kotak besar berwarna coklat kusam, kubuka tutup kotak itu dengan hati-hati. Aku meletakkan pipiku ke lutut, memandangi foto-foto yoga serta barang-barang pemberiannya, seperti boneka, jam tangan, album foto, kamera digital, jaket dan tas. Yoga selalu memberiku hadiah ketika aku berulang tahun atau ketika aku memenangkan pertandingan basket. Padahal aku telah memintanya untuk tidak memberikan apa-apa tapi ia tidak mendengarkan.
Aku tidak pernah punya uang banyak, tapi itu bukan masalah bagiku. Ibuku membesarkanku dengan gaji guru SD. Pekerjaan Ayahku juga tidak memberinya gaji besar.. dia hanyalah pegawai bank disini. Satu-satunya pendapatan pribadiku hanya di dapat ketika aku memenangkan pertandingan basket, uangnya lumayan besar jadi bisa ku tabung uuntuk biaya kuliah.
Yoga punya banyak uang.. aku bahkan tidak ingin membayangkan jumlahnya. Ia hanya mengatakan Ayahnya memiliki perusahaan di bidang makanan dan memiliki beberapa hotel serta restorant. Aku sudah mengenalnya sejak lama, tapi aku tidak terlalu banyak mengetahui tentang keluarganya ataupun bertemu dengan orang tuanya. Setiap kali aku bertanya pada Yoga tentang orangtuanya, ia hanya berkata Ayahnya selalu bepergian dan Ibunya sudah meninggal. Sadarlah aku, bahwa selama 5 tahun lebih ini aku sama sekali belum pernah di ajak ke rumahnya. Aku jadi bertanya-tanya apakah Intan pernah di ajak kerumahnya??
Aku bangun segera setelah matahari membiaskan cahaya pertamanya di luar jendela kamarku. Seperti robot aku bersiap-siap untuk acara hari ini sebelum sarapan di bawah aku menelpon Ali untuk tidak menjemputku, karena aku memutuskan untuk membawa mobilku sendiri. Aku memiliki firasat sepertinya hari ini tidak akan berjalan dengan baik dan berharap itu hanyalah sebuah firasat.
Aku turun ke bawah untuk sarapan, Ayahku dan Ana sudah menungguku untuk sarapan.. ketika turun ke bawah kulihat Ayahku mengamati ku dari atas hingga ke bawah secara terang-terangan. Mungkin ia merasa aneh karena hari libur tapi pakaianku sudah rapi. Aku mendesah dan duduk di kursi dengan malas-malasan.
“ Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Ayahku mengamatiku hati-hati, Ana hanya tersenyum.
“ Aku akan menonton di bioskop, kudengar banyak film bagus sekarang ini” jawabku sambil mengunyah sarapanku
Ayahku mengangguk tanpa mendongak “ Oh” ujarnya
“ Ayah keberatan?” tanyaku dengan antusias. Aku berharap Ayahku tidak mengizinkanku pergi, sehingga aku punya alasan untuk membatalkan acara hari ini. Tapi nada suaraku yang tinggi mungkin terdengar seperti marah dibandingkan antusias.
Ayahku buru-buru mendongak, sorot panic terpancar dari wajahnya. “ Tidak! Tidak! Pergi saja. Hari ini kamu kan libur lebih baik kamu manfaatkan liburmu dengan jalan-jalan dari pada dirumah seharian. Kebetulan Ayah dan Ana akan pergi memancing hari ini”
“ Oke” harapanku musnah. Kumakan lagi serealku dengan perasaan muram
Setelah selesai sarapan Ayahku dan Ana pergi memancing berdua, Ana mendoakanku supaya acara menonton hari ini berjalan lancar dan menyenangkan. Aku berterima kasih padanya, meski tau doanya sia-sia. Setelah mereka pergi aku duduk di ruang TV, mengamati rumah yang kosong, dapur yang kecil dan dinding bercat hijau. Tak ada yang berubah. Di atas meja yang diletakkan di ruang tamu tampak berderet foto-foto. Yang pertama foto pernikahan Ayahku dengan Ana di Amerika, kemudian fotoku, ayahku dan Ibuku di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat, diikuti fotoku ketika pertandingan basket, wisuda SMP dan foto kami sekeluarga ketika berlibur di Bali. Aku malu melihatnya, aku harus mencari cara supaya Ayahku memindahkannya ke tempat lain.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, terntaya aku ketiduran. Aku mengenakan jaketku dan mengambil kunci mobilku. Aku mengunci rumahku dan menyembunyikan kuncinya di vas bunga yang berukuran besar. Di dalam mobilku yang nyaman aku langsung menyalakan mesin mobil dan bergegas menuju PVJ.
Setelah sampai aku langsung memarkir mobilku dan langsung menuju lantai atas. Ternyata tidak sulit menemukan teman-temanku, mereka semua sudah berkumpul dan menungguku di depan bioskop. Sarah langsung melambaikan tangan ketika melihatku dan aku langsung bergabung dengan mereka. Ternyata mereka belum memutuskan akan menonton film apa.
“ Aku ingin menonton the proposal.. filmnya sangat romantis,Yoga apalagi Sandra Bullock yang bermain pasti lucu” kata Intan setengah memohon
“ Oke, kalian bagaimana?” tanya Yoga sambil menatap kami
Yang lain mengangguk, kecuali aku. Yoga mengerutkan kening padaku
“ Aku ingin menonton Drag me To Hell. Jika kalian tidak keberatan kita nonton filmnya terpisah. Setelah selesai film aku akan menemui kalian” aku lebih suka berurusan dengan horror dibandingkan nonton film cinta-cintaan.
“ Kau yakin tidak mau nonton the proposal?” tanya Yoga meyakinkanku. Entah mengapa aku merasa ia kecewa dengan pilihanku.
“ Aku ingin nonton Drag Me to Hell” aku bersikeras “ Aku sedang mood nonton film-film action. Yang banyak darah dan isi perutnya!” jelasku. Mendengar penjelasanku semua mengerutkan kening, seolah-olah aku sudah sinting, bahkan Intan terlihat ingin muntah.
“ Kau ingin aku menemanimu?” tanya Ali, tapi aku sempat melihat ekspresinya yang menganggapku sinting
“ Tidak usah. Kau nonton dengan mereka saja, kau kan tidak suka film yang banyak adegan darahnya bisa-bisa kau muntah di dalam bioskop dan membuat kami semua malu” aku terkikik mendengar leluconku.
Setelah membeli tiket kami pun berpisah, aku berjanji akan menemui mereka setelah film selesai di café jepang. Sebelum mereka masuk ke studio, aku melihat Yoga diam-diam melirikku tapi ketika aku mendongakkan kepala ia sudah masuk ke studio. Mungkin itu hanya imajinasiku saja. Seperti biasa.
Beberapa menit kemudian aku masuk ke dalam bioskop. Filmnya tepat seperti yang diramalkan. Dibagian awal saja sudah ada adegan makan keluarga ditambah dengan efek suara yang bagus membuat film semakin menegangkan. Tapi aku sangat menikmati.. aku sama sekali tidak takut. Aku sempat mendengar beberapa orang yang duduk dibelakangku menjerit-jerit ketakutan. Sedangkan aku malah tersenyum lebar ketika adegan pembantaian kucing. Mungkin memang benar aku sudah gila.
Setelah film selesai aku langsung beranjak dari bioskop dan menuju café jepang tepat dilantai bawah. Ketika menyusuri lorong yang lumayan sepi, aku melihat Yoga dan Intan sedang berpelukan. Astaga sejak kapan mereka berpacara???!!. Aku terkejut. Hatiku semakin sakit ketika melihat Intan mencium bibir Yoga , ia melumat bibir yoga dengan agresif.
Sekujur tubuhku terasa lumpuh. Aku tak bisa merasakan apa-apa dari leher ke bawah. Lututku mulai gemetar. Bisa kudengar darah menderas lebih cepat di belakang kepalaku. Dadaku terasa sangat sakit, perutku mual dan mataku begitu perih. Dengan tekad yang kuat aku membalikkan punggungku dan bejalan dengan langkah yang sangat pelan. Tatapanku kosong, pikiranku kacau, perutku mulas dan rasanya sebagian diriku sudah pergi. Aku begitu…. Rapuh.
Cinta, hidup, makna… berakhir.
Aku berjalan menuju café tersaruk-saruk. Setelah sampai aku duduk tak bernyawa. Tanganku gemetar, kudekap dadaku erat-erat dan menyembunyikannya. Aku tak peduli bagaimana yang lain melihatku seperti ini. Aku benar-benar tidak peduli! Tanpa memakan apa-apa aku langsung keluar dari café, aku tidak ingin melihat wajah Yoga dan Intan. Aku heran juga mengapa Ali tidak menghentikanku.
Setelah sampai di rumah Ayahku memelukku dengan ceria. Tapi ia langsung terkejut melihat wajahku yang pucat dan mataku yang kosong.
“ Tya, sayang kau tidak apa-apa?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, aku tidak ingin ia khawatir. Tapi kepalaku benar-benar pusing, badanku lemas dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Aku merasakan seseorang mengelus-elus kepalaku. Aku mencoba membuka mataku.. aku masih merasakan perasaan hampa.
“ Tya, kau tidak apa-apa?” tanya Ayahku cemas
“ Ayah?” suaraku terdengar asing dan kecil
Kubuka mataku lagi “ Ayah..”
“ Iya, sayang Ayah ada disini. Kamu sakit sayang? Kita bisa ke dokter”
“ Aku tidak apa-apa” dustaku.
Tangan Ayahku yang hangat menyentuh dahiku. “ Apa yang terjadi padamu sayang”
Aku membeku dalam genggaman tangan Ana, kurasakan perasaan panik di pangkal tenggorokanku.
“ Kau lelah,Tya?” tanya Ana lembut. Mungkin ia bisa merasakan perasaan panik dalam diriku.
Aku mengangguk. Aku merasakan jemari ayahku mengusap dahiku, disusul kemudian dihamparkannya selimut. Telepon berdering beberapa kali, ia bergegas menjawabnya sebelum bunyi deringan membangunkanku. Ia menjawab kekhawatiran para penelpon dengan suara pelan.
“ Iya, dia tidak apa-apa. Sekarang, dia baik-baik saja” begitu kata Ayahku berkali-kali
Beberapa menit kemudian telepon kembali bordering. Ayahku mengerang saat bangkit dari kursinya. Ana tetap berada disampingku dan terus menggenggam tanganku. Kubenamkan kepalaku lebih dalam ke bawah selimut, tak ingin mendengar pembicaraan yang sama lagi.
“ Yoga? Yah dia sudah pulang. Dia tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan nya.”
Ayahku menggerutu tidak jelas, ia berjalan dan kembali duduk di sebelahku.
Nama itu menggerakkan sesuatu dalam diriku, sesuatu yang mulai mencakar-cakar dan menyakiti hatiku.
  Siapa tadi?” tanya Ana berbisik
“ Yoga. Dia hanya mengkhawatirkan Tya” jawab Ayahku pelan
Aku menggeleng, hatiku ciut. Mendengar namanya disebut membuat hatiku semakin sakit, sakit yang luar biasa hingga aku tidak bisa bernapas.
Selama 3 bulan aku tidak sekolah, tidak bergerak dan tidak nafsu makan atau minum. Aku tidak memiliki gairah untuk hidup. Aku bahkan melarang temanku untuk datang menjengukku atau menelponku.
“ Baiklah, Tya!! Aku akan mengirimmu pulang”
Aku mendongak dari serealku, yang sejak tadi hanya kupandangi tanpa kumakan, dan menatap Ayah dengan shock. Aku tidak mengerti apa yang Ayahku katakana.
“ Aku kan sudah di rumah” kataku, bingung
“ Aku akan mengirimmu ke Ibumu, Amerika” Ayahku menjelaskan maksudnya
“ Apa salahku?” aku meringis.
“ Kau tidak mau sekolah, bergaul, membalas telpon temanmu atau pergi keluar rumah. Kau tidak mau melakukan apa-apa. Itulah masalahnya”
“ Baiklah, besok aku akan mulai sekolah asalkan Ayah tidak mengirimku ke Amerika”
“ Kau harus keluar dari perasaan depresi. Kau sangat kacau, Tya”
“ Aku tidak depresi dan aku tidak kacau” kataku menekankan kata-kataku agar terdengar lebih jelas.
“ Itu bukan perkataan yang tepat. Depresi lebih baik.. itu berarti kau merasakan sesuatu. Kau sekarang… tanpa kehidupan,Tya”
Perkataan Ayahku tepat mengenai sasaran membuat perasaanku sakit. Aku menghela napas dalam-dalam
“ Maafkan aku, Ayah” kataku datar
“ Aku tidak ingin kau meminta maaf, sayang”
Aku mendesah. “ Kalau begitu apa yang Ayah inginkan?”
“ Tya..” Ayahku ragu-ragu. Menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan perkataannya
“ Sayang, kau masih memiliki Ayah, Ibu, dan Ana.. jangan membuat kami seperti ini. Ayah sangat sayang padamu”
“ Aku tau. Aku baik-baik saja”
“ Mungkin kau harus diperiksa oleh seseorang yang professional” saran Ayahku hati-hati
“ Ayah ingin aku pergi ke psikiater” tebakku dengan suara lebih tajam
“ Mungkin itu bisa membantu”
“ Itu tidak akan membantu sama sekali”
Ayahku mengamati ekspresiku yang keras kepala “ Ini diluar kemampuanku, Tya. Mungkin Ibumu….”
“ Tidak Ayah, Ayah tidak perlu mengirimku ke Ibu. Aku akan pergi jalan-jalan malam ini. Aku akan mencari hiburan di Mall”
“ Bukan itu yang kuinginkan” bantah Ayahku, frustasi. “ Aku ingin kamu bahagia. Aku tidak ingin kamu merana. Mungkin kamu akan sembuh kembali kalau kamu tinggal bersama Ibumu di Amerika”
Aku merasakan kemarahan yang meluap-luap yang sudah lama tidak kurasakan. Kutatap wajah Ayahku “ Aku tidak mau pindah”
“ Kenapa tidak?” tuntut Ayahku
“ Sekarang aku kelas 3, sebentar lagi aku ujian dan wisuda.. pindah hanya akan membuat segalanya kacau”
“ Kau kan pintar”
Aku tidak menyahut.kudengar Ayahku mendesah
“ Kita sama-sama tau apa yang sebenarnya terjadi di sini, Tya dan itu benar-benar tidak baik untukmu. Dia sudah punya pacar, dia tidak mencintaimu. Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini”
Kutatap Ayahku dengan galak. Topik ini benar-benar terlarang, seperti yang disadari benar Ayahku. Ayahku akhirnya tau apa yang membuatku seperti ini. Ia menemukan sebuah kotak coklat kusam di tong sampah yang isinya foto, hadiah dan diary.
“ Aku tidak mencintai siapa-siapa” bantahku ketus
“ Aku akan pergi jalan-jalan keluar” aku langsung berdiri dan langsung mengambil kunci mobilku dan jaketku. Aku sudah keluar rumah sebelum Ayahku bereaksi.
Aku mengendarai mobil dengan cepat. Dan kuparkirkan mobilku di pinggiran taman alun-alun. Tempatnya begitu ramai, tapi hatiku tetap saja hampa. Aku duduk dibangku yang lumayan sepi dan menerawang langit-langit. Langit begitu curah, tapi hatiku begitu muram. Aku benci hidupku bahkan aku benci diriku yang rapuh ini.
“ Boleh saya duduk disini?”
Aku mendongakkan kepala, seorang lelaki kira-kira berumur 40an tersenyum padaku. Aku menggeser posisiku hingga bapa itu mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Aku membalas senyum padanya.
“ Langitnya bagus ya” ujarnya
“ Lumayan”
Aku memandang wajah lelaki itu. Ia sepertinya pria yang ramah dan baik. Beberapa menit kemudian aku tersadar Bapa itu memiliki wajah yang familier dalam ingatanku. Sorot matanya yang hangat dan lembut mengingatkanku pada seseorang yang tidak ingin ku ingat-ingat. Kudekap dadaku erat-erat.
“ Kau kelihatan kacau, Nak” komentar lelaki itu mengamatiku “ ekspresimu mengingatkanku pada putraku satu-satunya”
“ Memangnya putra anda kenapa” tanyaku mulai tertarik
“ Sebelumnya nama saya Roy” ia mengulurkan tangannya padaku
“ Tya” aku mengulurkan tanganku dan menjabat tangannya
“ Anak saya sepertinya sedang memiliki masalah. Ia jadi sering menyendiri di kamar sepertinya memiliki masalah yang sangat berat” ia mendesah “ itulah hidup”
“ Anda tau anak anda memiliki masalah apa?
“ Tidak. Saya tidak terlalu dekat dengan anak saya karena saya sering bepergian” ia tersenyum padaku. “ Tapi hidup memang seperti ini, pasti akan selalu ada masalah. Jika tidak ada masalah bukan hidup namanya.. tapi hadapi masalah itu dengan baik”
“ Terima kasih” ucapku tulus.
“ Kamu sering kesini?”
“ Tidak. Ini pertama kalinya aku kesini. Aku jarang bepergian”
Akhirnya aku menghabiskan hariku mengobrol dengan om Roy. Ia ternyata seorang pengusaha kaya yang sering bepergian ke luar negri, dan aku mendapati diriku mengajukan banyak pertanyaan, bahkan tanpa bepura-pura tapi karena benar-benar ingin mengetahui jawabannya.
“ Dari tadi om terus yang bicara” protesnya setelah bercerita panjang lebar tentang dirinya. “ Bagaimana kalau sekarang gantian? Bagaimana dengan sekolah dan teman-temanmu? Pasti ceria-cerita anak SMA lebih menyenangkan dibandingkan cerita om yang membosankan”
“ Salah” aku mendesah. “ Cerita anda lebih menyenangkan daripada cerita tentang teman-temanku. Aku suka cerita om”
Om Roy mengerutkan kening padaku.“ Kau aneh”
“ Terima kasih” ucapku datar
Om Roy tertawa, memutar bola matanya. “ Biasanya anak perempuan lebih cerewet dibandingkan kali-laki. Tapi kamu sebaliknya. Oh ya tadi kamu bilang kamu ini atlit basket, kau kan kecil sekali”
“ Tapi setidaknya gerakanku lebih lincah dibandingkan teman-temanku yang berbadan besar. Itu keunggulanku” tukasku
Hari berlalu begitu cepat. Aku menerawang langit yang mulai gelap. Aku mendesah dan berdiri.
“ Aku harus pulang, Ayahku pasti mengkhawatirkanku”
“ Hati-hati dijalan, Nak!” katanya sambil melambaikan tangan padaku
Aku menghentikan langkahku sebelum benar-benar menjauh. Apakah aku masih bisa bertemu dengannya? Entah kenapa aku begitu senang berbicara dengannya. Aku membalikkan tubuhku menghadap Roy. Ia tersenyum ketika aku membalikkan tubuhku
“ Apa aku bisa bertemu dengan om lagi?” ia pasti bisa mendengar nada berharap dalam suaraku.
“ Tentu. Kau bisa menemuiku di kantorku. Aku siap menjadi pendengar setiamu” janjinya membuatku tersenyum lega. Aku pun membalikkan tubuh dan berjalan menuju mobilku.
Aku mengendarai mobilku ke rumah, ketika sampai di depan rumah aku melihat Ali bersandar di depan mobilnya dengan tangan terlipat di dadanya. Aku berhenti di depan rumah, mematikan mesin, turun dari mobil dan menghampirinya. Aku menghentikan langkahku ketika tepat berhadapan dengannya. Kupandangi dia, terperangah takjub.
Ekspresinya membuatku terkejut bahkan nyaris tidak kukenali. Senyumnya yang terbuka dan ramah kini lenyap, sorot hangatnya kini menjadi sorot marah. Ia hanya memandangiku lama sekali.
“ Ali?” bisikku akhirnya, ketika keheningan membuatku semakin gila
Ali hanya menatapku, matanya tegang dan marah. Aku mendesah dan menggenggam tangannya yang hangat. Ia memejamkan mata dan menarik tubuhku hingga kami dalam posisi berpelukan, aku merangkul pinggangnya. Aku tersadar bahwa aku sangat merindukannya. Ketika bertemu dengannya sekarang, hatiku terasa sembuh. Kupeluk tubuhnya lebih erat lagi.
“ Maaf….”  Gumamku
“ Kau membuatku gila, Tya. Sudah 3 bulan kau tidak sekolah, kau tidak mau menjawab atau membalas telponku, kau tidak mengizinkanku menjengukmu. Kau tau aku sudah menunggumu hampir 2 jam?” katanya dengan suara tinggi
“ Maaf…..”
“ Besok kau akan sekolah?”
Aku menganggukan kepala didadanya
“ Aku kehilangan kau, Tya” katanya. Ia memelukku erat sekali hingga aku tidak bisa bernapas
“ Aku juga”
Ia melepaskan pelukannya dan menuntunku ke mobilnya. Aku masuk ke mobilnya dan kusandarkan kepalaku ke dadanya, ia meremas pinggangku.
“ Kau baik-baik saja” tanyanya waswas membuat keningnya berkerut
Aku menengadah memandanginya, air mata mengalir dipipiku. “ Bagaimana aku baik-baik saja, Ali?”
Kesedihan menggantikan sebagian kepahitan diwajahnya. “ Benar”
“ Mengapa kau datang kesini?”
“ Jika aku tidak bertemu denganmu aku bisa gila” bisiknya lembut
Kupandangi wajahnya. Ia memang tampan, matanya berwarna coklat, kulitnya indah dan mulus, sorot matanya tajam, rambutnya sedikit berantakan dan ia tetaplah Aliku.
Ali sadar sedang diamati.
“ Apa?” Tanyanya, mendadak canggung
“ Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak menyadarinya sebelum ini. Ternyata kau memang tampan, pantas banyak yang menyukaimu”
Ali hanya memutar bola matanya dan terkekeh. “ Kau benar-benar sakit,ya?”
“ Kayaknya. Tapi aku serius”
“ Well, kalau begitu, terima kasih”
Aku nyengir. “ Sama-sama”  
“ Cepat masuk kerumah, Ayahmu pasti menunggu” ia langsung melepas tangannya dari pinggangku. Sebenarnya aku tidak ingin masuk, aku benar-benar nyaman bersamanya tapi Ali benar Ayahku pasti mengkhawatirkanku. Aku mendesah, kupeluk tubuhnya lebih erat dan keluar dari mobilnya. Sebelum masuk aku melambaikan tanganku ke arahnya, ia membalas sambil tersenyum.
“ Halo Ayah” aku nyengir padanya
Wajah Ayahku tampak shock sesaat sebelum ia mengubah ekspresinya. “ Hai sayang” sapanya, suaranya terdengat tidak yakin. “ Senang jalan-jalan hari ini?”
Aku duduk di depannya “ Ya, senang”
“ Well, baguslah kalau begitu” Ayahku masih berhati-hati “ Apa yang kau lakukan?”
“ Bermain di taman alun-alun” jawabku singkat “ Aku cape, mau tidur” kataku berjalan menaiki tangga
“ Malam sayang” ucap Ayahku ragu-ragu
“ Malam Ayah, Ana” balasku
“ Tadi Ali datang” kata Ana pelan kepada Ayahku, tapi aku masih bisa mendengarnya sedikit.
“ Oh” gumam Ayahku
Aku masuk ke kamar ku, mengambil tas perlengkapan mandi dan piyama. Setelah mandi aku mengenakan piyama dan membukan pintu kamar mandi. Aku bergegas melintasi lorong, masuk kamarku dan duduk di tengah tempat tidurku yang sempit.
Untuk menunda tidur aku mengecek e-mail, ada pesan baru dari Ibuku.
Ia menulis tentang kegiatannya hari itu, tentang pengalamannya minggu ini menjadi guru pengganti di sekolah menengah, membuatnya merindukan murid-murid SDnya. Ia juga menulis bahwa bulan depan ia berniat mengambil cuti dan berkunjung ke Indonesia untuk menemuiku.
Aku membalas e-mail nya dengan cepat, mengomentari setiap bagian suratnya, dan menceritakan aktivitasku hari ini, kuceritakan tentang jalan-jalan ke taman Alu-alun dan bertemu dengan seorang om yang menyenangkan dan bersahabat dan apa yang kurasakan ketika Ali datang menemuiku.
Saat bangun aku gemetaran, aku bermimpi buruk sehingga aku bangun dalam keadaan yang sangat melelahkan dan teriakanku teredam bantal hingga Ayah dan Ana tidak bisa mendengarnya.
Ketika cahaya pagi yang samar masuk melalui jendelaku, aku diam tak bergerak di tempat tidur dan mencoba mengenyahkan mimpi burukku itu.
Ayahku memandangiku selama sarapan, dan aku berusaha mengabaikannya. Kurasa aku pantas menerimanya. Aku tak bisa berharap Ayahku tidak mengkhawatirkanku. Mungkin butuh berminggu-minggu baru ia akan berhenti memandangiku seolah-olah menunggu aksi zombie-ku muncul kembali, jadi aku harus berusaha untuk tidak membiarkan itu menggangguku.
Sekolah justru menjadi hari terburukku. Dengan tekad yang kuat, aku masuk sekolah untuk pertama kalinya setelah hidupku yang kacau balau. Ketika aku masuk ke kelas semua memandangku, bersimpati atas penyakitku yang lama. Ayahku mengatakan kesekolah bahwa aku sakit keras hingga aku tidak bisa sekolah karena penyakitku. Padahal aku sudah berdoa semoga semua orang mengabaikanku, sungguh doa yang tidak terkabulkan.
Hal yang paling sulit adalah bertemu dengan Yoga dan Intan. Hatiku benar-benar sakit tapi aku mengabaikannya. Ketika tau aku sekolah, Yoga langsung menemuiku dan menanyakan kabarku dengan suara yang cemas namun lega. Berbeda dengan Intan yang terlihat sangat tidak suka dengan kehadiranku kembali. Aku jadi bingung, ia kan sudah memiliki Yoga tapi mengapa ia masih saja merasa terancam dengan kehadiranku.
“ Halo teman-teman” sapaku sok biasa-biasa saja pada Sarah,Tomy,Arsa,Ryan,Ali,Yoga dan Intan ketika aku bergabung sambil membawa sebotol minuman bersoda. Mereka membalasku dengan tersenyum kecuali Intan.
Aku hampir tidak mengenali Intan. Rambut hitamnya yang halus dan selembut sutera di potong pendek sebahu dan di beri poni, sehingga rambut keritingnya yang halus tergerai indah dibahunya. Kalau saja aku tau ada alasan kuat dibaliknya, mungkin ada permen karet yang menempel dirambutnya? Atau rambutnya berkutu hingga ia harus memotongnya?. Sarah juga mengubah model rambutnya. Sekarang layer di rambutnya sudah dipanjangkan. Kulirik diriku di kaca milik Sarah, wajahku sangat pucat dan terlihat tidak sehat, rambutku juga sudah tidak bermodel. Aku memalingkan wajahku dari kaca itu dengan ekspresi kecewa.
“ Bagaimana keadaanmu?” tanya Arsa mencondongkan tubuhnya ke arahku
“ Baik” dustaku sambil tersenyum kecil dan yakin tidak ada yang percaya dengan jawabanku
“ Bagaimana kalau besok kita pergi nonton untuk merayakan kesembuhanmu?” usul Tomy semangat
“ Tidak!! Aku tidak mau ada perayaan apapun apalagi ke bioskop, aku benci bioskop?!” tolakku dengan nada dingin
Suasana langsung sunyi. Setiap pasang mata menatapku seakan-akan aku sudah sinting. Tapi aku benar-benar tidak suka bioskop, membuatku sakit memikirkan kenangan yang tidak ingin ku ingat ketika terakhir kalinya aku kesana. Aku memandang garang ke botol minumanku.
“ Baiklah tidak akan ada perayaan jika kau mau” kata Ali lembut memecahkan keheningan. Aku mendongakkan kepala dan ia memandangku tersenyum, sorot mataku mengucapkan terima kasih padanya.
“ Tapi aku senang kau sudah kembali sembuh dan sekolah lagi. Aku kehilangan kau” kata Sarah dengan lembut dan merangkul bahuku
            “ Aku juga” ucapku sedih. Aku sedih dan terharu ternyata mereka benar-benar kehilanganku
            “ Tapi kenapa kau tidak mengizinkan kami menjengukmu,Tya? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu” kata Yoga mengerutkan kening tidak suka padaku
            “ Maaf. Tapi aku tidak ingin kalian tertular dengan penyakitku” jawabku tanpa menatap matanya. Akan sangat menyakitkan menatap wajahnya yang indah ketika hatiku yang merana karena dia.
            mereka tak henti-hentinya menanyaiku sampai makan siang berakhir. Berangsur-angsur yang lain bisa memulai obrolan lain, meski masih sering memandangiku. Ali, Yoga dan Sarah lebih banyak mengobrol denganku, dan waktu Ali berdiri untuk membuang sisa makanan dari nampan, aku mengikutinya.
            “ Terima kasih ya” kataku pelan setelah kami jauh dari meja
            “ Untuk apa?”
            “ Untuk berbicara, membantuku tadi”
            “ Bukan masalah” Ali menatapku prihatin, tapi bukan mengira aku sudah sinting “ Kau baik-baik saja?”
            “ Tidak sepenuhnya” aku mengakui. “ Tapi sudah sedikit lebih baik” aku tau Ali mengetahui penyebab sebenarnya aku seperti ini. Begitu juga Sarah.
            “ Aku senang” ucapnya. “ Aku kehilangan kau selama ini”
            Saat itulah Intan melenggang melewati kami dan melotot ke arahku, aku tidak menggubrisnya. Ali memutar bola matanya pada Intan, dan tersenyum padaku dengan sikap menyemangati.
            Aku sampai dirumah sebelum Ayahku dan Ana pulang. Aku makan siang sendirian sambil melamun. Setelah itu setengah jam kuhabiskan dengan mengerjakan PR. Kuperiksa e-mail ku, tidak ada surat darinya. Aku menghela napas. Kuputuskan untuk menghabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran sekolah dan cinta-cintaan. Aku pergi ke halaman belakang dan berbaring di sofa dan memejamkan mata. Aku tidak memikirkan apa-apa hanya kehangatan yang kurasakan pada kulitku dan angin sepoi-sepoi yang menyapu rambutku yang menutupi wajahku.
            Hal berikut yang aku sadari adalah suara mobil Ayahku memasuki halaman. Aku langsung terbangun, duduk, menyadari sinar matahari sudah lenyap. Rupanya aku tertidur. Aku mengedarkan pandangan, bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tidak sendirian.
            Aku berdiri dan berjalan menghampiri Ayahku.
            “ Hai Ayah” sapaku memeluknya
            “ Halo sayang, bagaimana sekolahmu? Senang?” tanya Ayahku sambil menuntunku masuk. Ana mengikuti kami dari belakang
            “ Tentu” jawabku
            Mata Ayahku menyipit. Aku mendesah.
            Keesokan paginya, ketika aku memarkir  mobilku, aku sengaja memarkir mobilku jauh dari mobil Yoga. Kalau berada di dekatnya, pertahanan diriku akan runtuh. Ketika keluar dari mobilku, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat ke kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat mendahuluiku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Yoga tampak terlihat disebelahku, bersandar santai di mobilku. Ketampanannya membuat hatiku berdebar sekaligus menyakitkan karena ia bukan milikku.
            “ Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal
            “ Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci mobilku. Sentuhannya menyengat diriku
            “ Muncul tiba-tiba”
            “ Kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu” seperti biasa suaranya tenang, lembut dan merdu
            Aku menatap wajahnya, tapi cepat-cepat memalingkan wajahku dan menunduk, untuk menenangkan diri.
            “ Kenapa kau tidak masuk kelas?” tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan   
“ Kupikir kau bersama Intan. Kalian kan selalu bersama-sama. Lengket kayak perangko” sindirku tajam, kaget sendiri mendengar betapa wajarnya caraku menyindir.
“ Tidak juga” jawabnya sambil mengangkat bahu acuh. Aku mengerutkan kening
“Kau…….” Ujarku geram. Aku tidak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat.
“ Kau tidak bertanya tentang hubunganku dengan Intan?” tanyanya sambil berjalan disisiku
Mulutku ternganga dan napasku mengeluarkan suara terkesiap kaget. Aku membeku ditempat, tertusuk oleh pertanyaannya yang setajam pisau. Kepedihan mengoyak tubuhku dalam pola familier.
“ Itu bukan urusanku” bisikku kembali berjalan
Yoga mengangkat sebelas alis sambil memandang wajahku. “ Kau benar-benar sinting. Biasanya kau selalu antusias mendengar ceritaku dengan Intan”
Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berjalan lebih cepat.
“ Tunggu” panggilnya. Aku terus berjalan, tapi ia menyusulku dengan mudah.“ Maafkan aku karena berkata kasar padamu” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya.
“ Aku memang sinting, kau tidak salah” kataku seperti robot
“ Tidak, akulah yang salah” ia bersikeras
“ Kalau kau memang salah, pergi dan tinggalkan aku sendiri. Aku benar-benar benci padamu! Kau membuatku gila!!!” teriakku
“ Aku tidak mengerti” ia tampak bingung “ Kau marah dan benci padaku? Apa sebabnya?” wajahnya kini berubah dari bingung menjadi kaget
“ Itu bukan urusanmu” aku mengucapkan setiap kata dengan pelan, hati-hati mengendalikan amarahku
Kami saling menatap marah dan hening. Akulah yang pertama kali bicara, mencoba tetap focus. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang tampan dan menawan. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur.
“ Kenapa kau peduli padaku?” tanyaku dingin
“ Itu bukan urusanmu” ia mengulangi kata-kataku dengan sikap arogan. Ia pun berjalan mendahuluiku.
Aku tak sanggup bergerak dari tempatku berdiri. Kupandangi ia sampai ia menghilang dari pandanganku. Aku berjalan pelan seperti robot, tanpa sadar lonceng sudah berbunyi. Aku tersaruk-saruk menuju kelas dengan ekspresi muram. Sesampainya di depan pintu aku berhenti, sengaja berlama-lama.
Sambil mendesah, kudorong pintu hingga terbuka.
Bu Dini melayangkan tatapan galak padaku, ia sudah memulai pelajaran. Aku bergegas ke kursiku. Ali memperhatikan wajahku ketika aku duduk disebelahnya. Aku mendesah dan tersenyum kecil padanya, ia tidak membalas senyumku.
Kelas berlalu lebih cepat dari yang kurasakan. Ini semua disebabkan oleh persiapan yang kulakukan tadi pagi. Tapi sebagian besar dari kenyataan bahwa waktu lebih cepat bila aku harus menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Aku meringis ketika Bu Dini menyudahi pelajaran lima menit lebih cepat. Ia tersenyum seperti orang yang telah berbuat baik. Setelah Bu Dini pergi, aku berbalik memunggungi Ali untuk mengumpulkan barang-barangku, berharap ia langsung pergi.
“ Tya?” panggilnya ragu-ragu
Aku berbalik, enggan. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya
“ Kau bicara denganku?” tanyaku berlagak bodoh
“ Kau kenapa?” tanyanya cemas
Aku membelalakkan mata, berlagak lugu. “ Memangnya aku kenapa?”
“ Kau tampak murung” komentarnya. Mengapa ia harus begitu perhatian hari ini?
“ Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan.
“ Kupikir begitu. Apa acaramu hari ini?” tanyanya mengubah topik pembicaraan, membuatku lega.
“ Pulang” jawabku
“ Sudah lama kita tidak bermain basket. Bagaimana kalau kita bermain basket?” usulnya antusias
Sudah lama aku memang tidak bermain basket. Aku ragu masih memiliki tenaga untuk bermain basket, tapi mungkin dengan berolah raga akan sedikit memulihkan keadaan.
“ Jelas, tentu aku mau. Asyik”
“ Kalau gitu ayo kita ke gymnasium” kata Ali, menyampirkan lengannya di pundakku
Sesampainya di gymnasium, kami pun bertanding basket. Sudah lama aku tidak latihan dan Ali mengalahkanku dengan skor 3-0. Walaupun kalah, tapi aku sangat menikmatinya. Aku merasakan perasaan bahagia.
“ Walaupun aku mengalahkanmu, tapi kau bermain bagus sekali, padahal sudah lama sekali aku tidak melihatmu bermain basket” komentarnya sambil mengacak-acak rambutku
Aku tertawa pelan. Komentarnya membuat mataku membelalak heran. Aku tertawa, benar-benar tertawa. Aku merasa sangat ringan hingga aku tertawa lagi, hanya agar perasaan itu bertahan lama. Ali ikut tertawa bersamaku.
“ Ayo pulang” ajaknya sambil mengulurkan tangan dan membantuku berdiri
Aku mengangguk dan menerima uluran tangannya
“ Mana tas mu?” tanya Ali ketika kami keluar dari gymnasium
“Oh… ketinggalan di kelas. Aku ke kelas dulu, kau tunggu aku disini” kataku melepaskan tanganku dari genggamannya.
Sambil berlari kecil aku menuju kelas untuk mengambil tas. Tapi ketika aku menuju kelas, langkahku terhenti di depan pintu kelas sebelah kelasku. Aku melihat Intan dan Yoga berciuman. Dengan posisi Intan memeluk leher Yoga dan Yoga memeluk pinggang Intan. Sudah kedua kalinya aku memergoki mereka tengah berciuman.
Apakah aku berusaha menjadi gadis rapuh lagi? Apakah aku berubah menjadi seseorang yang senang disiksa? Seharusnya aku langsung ke kelasku mengambil tas dan kembali kepada Ali. Aku merasa jauh, jauh lebih sehat bila bersama Ali.
Lututku gemetar, kepalaku pusing dan lubang hitam dalam hatiku akhirnya terbuka juga. Kupaksakan kakiku untuk bergerak. Aku berjalan pelan ke kelasku. Aku tak sanggup berjalan lagi, karena tak bisa bernapas. Aku duduk dilantai dan meringkuk seperti bola.
Meski berjuang untuk tidak memikirkan dia, aku tidak berjuang untuk melupakan dia. Aku bertanya-tanya berapa lama ini akan berlangsung. Mungkin suatu saat nanti, bertahun-tahun dari sekarang. Bila kepedihan itu mereda ke tahap aku sanggup menanggungnya aku akan mengenangnya sebagai best man ku. Tapi bagaimana jika lubang ini takkan pernah membaik? Bila kerusakannya permanen dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Kudekap diriku lebih erat lagi. Lama sekali aku memandang ke lantai dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku mencintainya sedalam ini? Mengapa aku masih saja mengharapkan dia menjadi milikku, sementara dia takkan pernah menjadi milikku.
Bagaimana jika Ali menyusulku kemari? Bagaimana aku bisa menjelaskan keadaanku yang hancur berkeping-keping, kondisiku yang meringkuk seperti bola untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak mencabik-cabik tubuhku? Jauh lebih baik bila tidak ada yang melihatku.
Tidak lama kemudian, Ali menyusulku dan menemukanku dalam keadaan seperti itu, dan terlihat sekali dari ekspresinya bahwa ia mengerti.
“ Tya” ucapnya langsung. Ia menarikku dan melingkarkan kedua tangannya di pundakku. Kehangatannya membuatku lega, aku bisa bernapas dengan adanya dia disini.
“ Ali” protesku,berkelit. Tapi ia semakin erat melingkarkan tangannya di pundakku waktu aku berusaha berkelit lagi.
“ Tunggu sebentar,Tya” katanya, suaranya tenang. “ Jawab dulu pertanyaanku”
Aku meringis. Aku tidak ingin melakukan ini. Tidak sekarang, tidak nanti.
“ Apa?” gerutuku masam
“ Kau suka padaku, kan?”
“ Kau tau aku suka padamu”
“ Lebih daripada lelaki yang kau kenal?” sikapnya kalem, tenang seolah-olah ia sudah tau jawabannya.
“ Lebih daripada cewek juga” jawabku
Ali nyengir “ Asalkan kau paling suka padaku. Dan kau menganggapku tampan. Aku sudah siap menjadi orang yang gigih dan menjengkelkan”
“ Perasaanku tidak akan berubah” kataku, dan meski berusaha agar suaraku tetap normal, aku bisa mendengar nada sedih di dalamnya.
“ Karena dia?”
Aku meringis
“ Kau tidak usah menjawabnya” kata Ali
            Aku mengangguk, bersyukur
            “ Tapi jangan marah padaku kalau aku terus mendekatimu, oke?” Ali mengelus-elus rambutku. “ Karena aku tidak mau menyerah. Aku masih punya banyak waktu”
            Aku mendesah. “ Kau jangan menyiakan-nyiakan waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna” kataku, meski aku menginginkannya. Apalagi karena ia mau menerimaku dalam keadaanku yang seperti ini, rapuh dan menyedihkan.
            “ Aku akan melakukannya, selama kau masih menyukaiku”
            “ Aku tidak bisa membayangkan aku tidak menyukaimu” ungkapku jujur.
            Ali berseri-seri. “ Itu sudah cukup buatku”
            “ Hanya saja jangan berharap lebih” aku mengingatkannya, mencoba menarik diri dari pelukannya. Ali terus memelukku dengan erat.
            “ Ini tidak membuatmu marah, kan?” tanyanya, melihat penolakanku.
            “ Tidak” desahku. Sejujurnya, rasanya menyenangkan. Pelukannya sangat hangat membuatku tidak ingin melepaskannya, tapi aku takut ia lebih berharap.
            Aku pun berdiri, melepaskan diri dari pelukannya. Ku ambil tas di bangkuku, menghampirinya, menyelipkan jari-jariku ke sela-sela jarinya dengan lagak biasa-biasa saja, agar tidak melukai hatinya. Ali tersenyum dan menarikku keluar kelas. Ketika keluar kelas, kami berpapasan dengan Intan dan Yoga. Yoga langsung memandang ke bawahku, ke tanganku dan Ali yang saling bertaut. Wajahnya tidak bisa ditebak, aku bisa merasakan kepedihan di sorot matanya, atau mungkin kepedihan di hatiku yang begitu menyakitkan.
            Otot-ototku mengejang, membeku kaku ditempatku berdiri, perutku bergejolak. Aku menundukkan kepala, berusaha agar air mataku tidak tumpah. Aku tidak ingin memandangnya, bahkan berusaha tidak mempedulikan tangan Yoga yang melingkari pinggang Intan dengan mesra. Aku hanya memandang tanganku yang bertaut dengan tangan Ali, dan menggenggamnya erat-erat, ali bergeming.
            “ Pulang?” tanya Ali, sedikit terdengar amarah dalam suaranya.
            “ Ya” jawab Yoga, suaranya dingin dan datar.
            “ Sampai nanti” kata Intan sinis. Berbalik dan berjalan di depanku.
            “ Ayo” ajak Ali, menuntunku.
            Ali mengantarku ke lapangan parkir sambil membisu. Ia membuka pintu kemudi, setelah aku masuk ia menutupnya. Ia terus memandangi wajahku yang hampa melalui kaca jendela yang terbuka. Aku tidak membalas tatapannya. Menyalakan mesin dan meninggalkannya sambil membisu.
            Ayahku sudah menunggu di teras. Begitu mobilku berhenti, ia menghampiriku. Ia memandang wajahku. Ekspresi mengenali yang penuh kengerian tergambar di wajahnya. Aku berusaha merasakan wajahku dari dalam, untuk mencari tau apa yang dilihatnya. Wajahku kosong dan dingin, dan sadarlah aku wajahku ini mengingatkan Ayahku pada apa.
            Ayahku merangkulku dan membantuku turun dari mobil.
            “ Apa yang terjadi?” tanyanya sesampainya di dalam.
            Suaraku hampa tak bernyawa. “ Aku benci pada diriku sendiri”
            Ayahku melayangkan pandangan aneh ke arahku. “ Kenapa kau bilang begitu?”
            “ Aku mau ke kamar” kataku, mengabaikan pertanyaannya.
            “ Oke” sahutnya sambil lalu
            Aku memutuskan mandi karena bau keringat gara-gara bermain basket. Ketika aku mematikan keran Dalam suasana yang hening, aku bisa mendengar Ayahku berbicara dengan Ana di bawah. Aku membungkus tubuhku dengan handuk, lalu membuka pintu kamar mandi secelah.
            “ Seberapa parah keadaannya, Sayang?” tanya Ana lirih, sudah seminggu lebih Ana pergi ke luar kota karena pekerjaan.
            Ayahku mendesah. “ Parah sekali”
            Aku tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Ayahku pada Ana, hanya akan membuatku merasa semakin membenci diriku sendiri karena telah membuat semua orang yang ku kenal khawatir. Aku berjingkat-jingkat cepat melintasi lorong dan masuk ke kamarku.
            Aku memakai piyama lalu merangkak naik ke tempat tidur. Aku berbaring di tempat tidur beberapa menit kemudian, menyerah saat kepedihan itu akhirnya muncul lagi.
            Hal ini benar-benar melumpuhkan, sensasi bahwa sebuah lubang besar menganga di dadaku, merenggut semua organ vitalku dan meninggalkan bekas luka yang masih basah dan berdarah disekelilingnya, yang masih tetap berdenyut nyeri dan mengeluarkan darah meski waktu terus berjalan. Secara rasional aku tau paru-paruku pasti masih utuh, namun aku megap-megap menghirup udara dan kepalaku berputar seolah-olah segenap usahaku sia-sia. Jantungku pasti juga masih berdetak, tapi aku tak bisa mendengar detaknya di telingaku, tanganku terasa biru kedinginan. Aku meringkuk seperti bayi, memeluk dada seperti memegangi diriku agar tidak hancur berantakan. Aku berusaha menggapai perasaan kelu dan lumpuh, penyangkalanku, tapi perasaan itu meninggalkanku.
            Meski begitu, kudapati bahwa ternyata aku bisa bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan itu… perasaan kehilangan yang terpancar keluar dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan yang menghancurkan ke kaki, tangan dan kepalaku, tapi semua itu masih bisa kutahan. Aku masih bisa melewatinya. Walaupun rasa kepedihan itu tidak melemah seiring jalannya waktu, tapi aku jadi semakin kuat menahannya.
            “ Tya, bagaimana kalau kau pulang saja?” Tomy menyarankan, matanya terfokus ke satu tempat, tidak benar-benar menatapku. Aku bertanya-tanya berapa lama hal itu sudah berlangsung, tanpa aku menyadarinya.
            Aku menghabiskan sabtu ini bermain game di rumah Tomy. Aku tidak nyaman berada di rumah, dengan sikap Ayahku yang mengawasiku dan menungguku menjadi zombie lagi. Maka aku memutuskan berkunjung ke rumah Tomy yang kebetulan berada di rumah.
            “ Aku tidak keberatan tetap disini” kataku. Aku belum siap menenggelamkan diriku kembali ke cangkang mati rasa yang melindungiku.
            “ Serius Tya, hari sudah semakin gelap dan aku tidak mau Ayahmu kemari dan menuduhku menculikmu seharian” gumam Tomy.
            “ Yah, jika kau memang ingin aku pergi” aku mengangkat bahu, berdiri dan kembali menggunakan jaket. “ Sampai ketemu hari senin” gumamku.
            “ Ya”
            Pintu menggeser terbuka dan aku keluar menerobos hujan. Aku meringkuk dalam jaket dan berlari ke dalam mobil. Hujan menderas memukul-mukul penutup kepalaku dengan suara luar biasa keras, tapi sebentar saja raungan mesin mengalahkan suara lainnya.
            Aku berhenti di depan rumahku. Lampu mobilku menyapu trotoar dan mematung pada mobil yang diparkir diseberang jalan depan rumahku. Aku terkesiap kaget.
            Itu mobil hitam mengkilat, mobil yang ku kenal. Mobil Yoga. Kedua tanganku gemetaran dan aku harus berkonsentrasi penuh agar bisa bernapas normal. Meski begitu tanganku tetap gemetar, bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Aku menggeleng dan menghela napas dalam-dalam.
            Yoga turun dari mobil waktu aku keluar dari mobilku, lalu berjalan menghampiriku. Wajahku merona dan jantungku berdebar sangat kencang. Ketika ia berada di depanku, ia tidak bicara apa-apa hanya diam menatapku penuh arti. Menarikku ke mobilnya agar tidak kehujanan. Ia menyalakan tombol control, menyalakan pemanas.
            Aneh sekali, padahal aku tau hatiku sekarang ini benar-benar hancur dan terluka. Namun detik ini, ketika ia menatapku lembut aku merasa damai. Utuh. Aku bisa merasakan jantungku berpacu kencang di dadaku, darah mendesir panas dan cepat mengisi pembuluh darahku. Aku sempurna.. bukan sembuh, karena seolah-olah memang tak pernah ada luka di sana.
            “ Ada apa?” tanyaku, berusaha tetap tenang
            Bibirnya mengejang, berusaha tenang. “ Tidak, tidak ada apa-apa”
            Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung, sadar aku menggertakan gigi. Ia menunggu.
            “ Lalu jika tidak ada apa-apa, kenapa kau kesini” aku bertanya, mataku tetap terpejam. Lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini.
            “ Aku minta maaf” ia terdengar tulus. “ Aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini kau bersikap dingin padaku. Jika aku melakukan hal yang tidak kau sukai, maafkan aku”
            Aku membuka mata. Wajahnya sangat serius.
            “ Aku tidak tau apa maksudmu” kataku hati-hati.
            “ Aku lebih tidak mengerti dengan maksudmu menjaga jarak denganku, apa karena kau dan Ali berpacaran?” tanyanya, dengan nada kesal.
            Aku membelalakkan mata, mulutku menganganga. Terkejut, karena ia memiliki pemikiran yang tidak terduga. Bagaimana mungkin aku memiliki hubungan semacam itu dengan Ali. Aku hanya menganggap Ali sebagai keluargaku dan sangat menyayanginya.
            “ Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?” desisku tertahan.
            “ Jadi apa, kalau begitu?” ia jelas sangat marah. Rahangnya mengeras dan ia berbicara dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “ Kusangka kita berteman”
            “ Dulu kita berteman” ada sedikit penekanan pada kata dulu.
            “ Aku tidak mengerti” suara Yoga yang tadinya marah berubah rapuh, dan ia memandang melampaui kepalaku, amarah membara dimatanya.
            “ Aku tidak bisa menjadi temanmu lagi”  aku ragu-ragu, mengalihkan pandanganku.
            “ Tya, please. Bisakah kau ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin aku bisa membantu”
            “ Tidak ada yang bisa membantuku sekarang” ujarku dingin. Berusaha untuk mengabaikan rasa sakit yang menghantamku. Memang benar, tidak ada yang bisa membantuku, aku sendiri pun ragu bagaimana caranya agar aku kembali normal lagi dan berhenti mencintainya di luar kewarasanku.
            “ Aku memang bersalah, aku melakukan hal yang menyakitimu dan bahkan aku tidak menyadarinya” ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan.
            Aku ingin menyentuh wajahnya, ingin menggapainya. Menghapus kesedihan dan kepedihan yang ia rasakan seperti yang kurasakan pula. Kesedihannya sangat nyata, aku benar-benar ingin menenangkannya, tapi aku tak tau bagaimana caranya. Aku melipat tanganku di dadanya dan menatap keluar. Hujan begitu deras.
            “ Berhentilah menyalahkan dirimu” kata-kata itu terlontar cepat, seperti reflex.
            “ Kalau begitu aku harus menyalahkan siapa?” sergahnya marah.
            “ Salahkan saja aku, puas?” balasku membentak.
            “ Kau keliru, akulah yang salah… kau tidak pernah melakukan kesalahan”
            “ Jangan berani-berani mengaku dirimu keliru.. kau tidak tau apa-apa tentang perasaanku”
            “ Kau sendiri juga tidak tau bagaimana perasaanku” geramnya.
            “ Pulanglah. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan”
            “ Tentu saja masih ada! Kau belum menjelaskan apa-apa!” katanya, menarik tanganku ketika aku beranjak keluar, ketika aku berbalik menghadapnya untuk memberontak, wajahnya yang sangat tampan hanya beberapa senti dari wajahku. Jantungku berhenti berdetak. Mataku mengerjap, benar-benar terpesona. Namun aku buru-buru memalingkan wajahku, sebelum hatiku semakin hancur.
            “ Pulanglah, Yoga. Aku tak bisa berteman denganmu lagi” kataku, melepaskan tangannya dariku dan keluar dari mobilnya.
            Kepedihan yang kurasakan, meskipun sepertinya konyol, benar-benar kuat. Air mata akhirnya mengalir ke pipiku, setelah ku tahan sekian lama. Pertahananku nyaris rapuh. Aku ingin berbalik dan kembali padanya, mengatakan bahwa semua perkataanku padanya hanyalah omong kosong.
            Aku hancur luluh dan tidak bisa diperbaiki lagi.
            Aku masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup dan mendekap dadaku erat-erat. Ana melihatku basah kuyup, langsung mengambil handuk dan menyampirkannya ke tubuhku. Ayahku tertidur du sofa. Aku mendesah lega, karena Ayahku tidak perlu melihatku dalam keadaan seperti ini dan aku tidak perlu susah-susah mencari alasan mengapa aku pulang dalam keadaan seperti ini.
            Ana menyentuh pipiku dan mengusapnya dengan lembut sambil tersenyum iba padaku. Sesaat aku sangat merindukan Ibuku. Aku tersenyum kecil padanya, dan pergi ke kamarku sambil menggigil kedinginan.
            Aku membersihkan rumah keesokan paginya sambil melamun sekaligus mengalihkan perhatianku dari mimpi burukku semalam. Ayahku sedang mencuci mobilnya di luar, sedangkan Ana pergi berolahraga pagi sekali. Jadi ketika telepon bordering, aku langsung menjatuhkan sikat WC dan lari ke bawah untuk mengangkatnya.
            “ Halo?” jawabku terengah-engah.
            “ Tya?” kata Ali, nadanya hati-hati. Ia masih ingat dengan peristiwa kemarin-kemarin.
            “ Hai, Ali” kataku, mencoba memperdengarkan suara seceria mungkin.
            “ Aku menelpon ke HP mu tapi tidak kau angkat-angkat, aku khawatir kau kenapa-napa. Bagaimana keadaanmu?”
            “ Memangnya ada apa denganku? He.. he… aku baik-baik saja. Maaf HP ku di atas jadi aku tidak tau kau menelponku”
            “ Ooo… aku senang kau baik-baik saja. Hari ini kamu ada acara?”
            “ Tidak, kenapa?” tanyaku penasaran.
            “ Bagaimana kalau hari ini aku ke rumahmu? Kita mengerjakan PR bersama-sama” ajaknya ragu-ragu.
            “ Tentu. Aku akan menunggumu” aku langsung menyetujui dan menutup  telepon.
            “ Tya!!” seru Ayahku berjalan ke dapur
            “ Ada apa, Ayah?” tanyaku. Mengembalikan peralatan bersih-bersihku ke bawah konter kamar mandi dan menghampirinya.
            “ Apa yang akan kamu lakukan hari ini?”
            “ Ali mau kesini. Kami sama-sama berencana mengerjakan tugas. Ayah tidak keberatan, kan?”
            “ Tentu saja tidak” sergah Ayahku cepat-cepat.
            Aku tersenyum padanya dan berlari menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku mendesah dan merasa lelah… lelah harus berpura-pura menjadi diriku yang ceria dan selalu tersenyum. Aku duduk di kursi kayu yang menghadap keluar dan menerawang.
            Semalam aku tidak bisa tidur. Aku bertekad untuk keluar dari kepedihanku dan tidak lagi mengkhawatirkan Ayahku, keluargaku dan sahabat-sahabatku. Aku tak lagi memerhatikan hari-hari yang berlalu, tidak ada alasan untuk itu, karena aku berusaha sebisa mungkin untuk hidup di masa kini, tanpa masa lalu yang menghilang, atau masa depan yang menjelang.
            Aku menerawang keluar jendela. Mendesah dan mendekap diriku erat-erat agar tetap utuh. Aku menabahkan hatiku agar tidak semakin hancur.
            Waktu berjalan dengan cepat, matahari mulai sembunyi dibalik awan. Ternyata aku berdiam diri selama 6 jam. Tak lama kemudian bel berbunyi dan terdengar suara pintu terbuka. Aku yakin Ayahku sudah membukakan pintu untuk menyambut Ali. Aku menarik napas dalam-dalam dan bangkit dari kursi. Cepat-cepat aku mengambil buku pelajaranku yang tersimpan di meja belajarku. Aku bergegas, seolah-olah dengan cepat bertemu dengan Ali membuat perasaanku membaik.
            Kulirik diriku di cermin sebelum membuka pintu kamarku, hati-hati mengatur ekspresiku dengan menyunggingkan senyum dan berusaha mempertahankannya.
            Ana tidak kelihatan kaget sedikitpun melihat aku dan Ali berselonjor di lantai ruang tamu dengan buku pelajaran bertebaran dimana-mana, jadi kurasa ia dan Ayahku diam-diam membicarakan kegiatan kami.
            Ali ikut makan makan malam bersama kami, lalu pulang sambil membawa sepiring makanan untuk Ayahnya. Ibu Ali sudah meninggal ketika Ali masih berumur 7 tahun. Ibunya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Setelah Ibunya meninggal, Ali mengurus Ayahnya, sama sepertiku dulu, mengurus Ibuku yang ceroboh. Aku sangat kagum dengan kemandirian Ali, ia tidak pernah mengeluh harus mengerjakan tugas rumah dan mengurus Ayahnya seorang diri.
            Waktu mulai berjalan berjalan jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. sekolah dan Ali membentuk pola yang rapi dan mudah diikuti. Dan keinginan Ayahku terwujud, aku tidak merana lagi. tentu saja, aku tidak bisa menipu diri sendiri sepenuhnya.
            Aku seperti bulan tersesat, planetku hancur dalam skenario film tentang kepedihan hati yang menimbulkan perubahan besar yang tepat, walau bagaimana pun, bergerak dalam orbitnya yang kecil dan sempit mengitari ruang angkasa yang kini kosong melompong, mengabaikan hukum gravitasi.
            Kini aku merubah kebiasaanku yang selalu datang ke sekolah tepat waktu, menjadi datang setelah bel berbunyi. Aku tidak ingin bertemu dengan dia, bahkan mencium parfumnya yang membuatku terpesona pun aku benar-benar tidak ingin. Ketika bel pulang berbunyi, aku bergegas menuju parkiran dan langsung naik mobil, dan meninggalkan sekolah tanpa ragu. Ali dan Sarah berhati-hati untuk tidak membicarakan dia dihadapanku, atau bahkan tidak pernah sama sekali ketika aku ada. Setiap jam istirahat, aku menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan yang sepi bersama Ali yang setia menemaniku.
            Hubunganku dengan teman-temanku baik-baik saja. Namun, aku merasa sebenarnya tidak begitu. Aku, Ali dan Sarah sering menghabiskan waktu bersama, bahkan Sarah sering main ke rumahku di bandingkan menghabiskan waktunya dengan Ryan, kekasihnya. Ryan, Tomy bahkan Arsa yang dulunya sering menghabiskan waktu denganku dan Ali, sekarang lebih sering berkumpul dengan Yoga dan Intan.
            Sudah 2 bulan lebih aku tidak mengobrol atau menyapa dia. Walaupun begitu, perasaanku sama sekali tidak berkurang sedikit pun terhadapnya bahkan hatiku begitu merindukannya. Ingin sekali aku menghampirinya setiap kali ia berjalan di depanku. Aku ingin melihatnya lagi, ingin ia memandangku dengan sorot hangat, ingin ia memanggilku dengan suaranya yang indah dan menyejukkan di dadaku, ingin melihat senyumnya yang menawan ketika ia melihatku.
            Tapi bagaimana mungkin aku bisa berteman dengannya lagi, sedangkan aku mencintainya begitu mendalam? Begitu tidak rasional. Aku tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa ia bukan milikku, tetapi milik seseorang yang aku benci sepanjang sejarah kehidupanku.
            Kini Yoga mungkin benar-benar membenciku, karena aku telah menyakitinya. Banyak perubahan dalam dirinya ketika aku memandangnya diam-diam dari sudut mataku ketika kami sering berpapasan tidak sengaja di gymnasium, waktu aku melihat latihan basket siswa junior. Wajahnya licin, muram, ada sesuatu di balik tatapannya yang dingin dan kosong. Ia bahkan lebih pendiam, padahal ia tipe orang yang ceria, murah senyum dan ramah. Masih tetap sangat tampan, namun wajahnya terkesan lebih dingin, lebih menyerupai patung, kurang hidup. Aku penasaran apa yang terjadi padanya hingga ia luar biasa berubah. Aku tidak yakin penyebabnya adalah hubungannya dengan Intan, karena kupikir hubungan mereka baik-baik saja bahkan kini lebih romantis. Mereka berdua selalu bersama-sama, setiap mereka berpisah sebelumnya Intan memberikan ciuman mesra di bibir Yoga. Setiap melihat pemandangan itu, aku selalu mendekap tubuhku erat-erat, berharap agar tubuhku tidak hancur.
            Kini hampir setiap hari Ali bermain ke rumahku untuk mengerjakan PR atau sekedar mengobrol. Ayahku merasa cukup yakin aku sudah kembali waras sehingga setiap sabtu dan minggu ia pergi berdua bersama Ana. Waktu ia pulang, kami sudah selesai mengerjakan PR dan sedang menonton the lord of the ring.
              Mungkin sebaiknya aku pulang” Ali mendesah. “ Ternyata sudah malam sekali”
            “ Oke, baiklah” gerutuku “ Kuantar kau ke mobilmu”
            Ali tertawa melihat ekspresiku yang keberatan, sepertinya itu membuatnya senang.
            Aku mengantarnya sampai depan rumahku, mobilnya di parkir di depan rumah. Sebelum pergi masuk, ia meraih tanganku dan membelai pipiku dengan lembut sambil menatapku, kemudian menarik tanganku yang ia genggam ke wajahnya dan mengecupnya. Aku tersenyum. Setelah itu, ia masuk mobil dan pergi.
            Besoknya setelah jam sekolah selesai seperti biasa aku langsung bergegas menuju parkiran, namun ketika sampai di parkiran sebelum aku masuk mobilku Tomy menghampiriku. Aku tersenyum padanya, ketika ia berlari menghampiriku.
            “ Hai!!” sapanya senang
            “ Hai juga. Ada apa?”
            Wajahnya memerah dan ia menundukkan kepala. Aku merasa kasihan.
            “ Begini, sepupuku memberikan 2 tiket film sabtu ini. Aku bertanya-tanya kalau-kalau kau… mau… pergi bersamaku. Menonton film bisa membuat hati menjadi lebih baik”
            Aku berhenti sesaat. Kugigit bibirku. Aku membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. Aku tidak ingin merusak hubunganku dengan Tomy, tidak bila dialah salah satu orang yang siap memaafkanku atas sikap gilaku. Tapi, aku benar-benar tidak suka bioskop karena mengingatkanku pada kepedihan yang kurasakan.
            “ Maksud kamu berkencan?” tanyaku. Bersikap jujur mungkin langkah terbaik yang bisa diambil saat ini. Langsung ke pokok masalah.
            Tomy mencerna nada suaraku. “ Kalau kamu mau. Tapi tidak perlu begitu juga”
            “ Aku tidak mau berkencan” jawabku lambat-lambat, menyadari betapa benar hal itu. Seisi dunia terasa sangat jauh bagiku.
            “ Hanya sebagai teman?” Tomy mengusulkan. Bola mata coklatnya yang jenih sekarang tidak terlalu bersemangat. Kuharap ia bersungguh-sungguh waktu mengatakan kami bisa jadi teman saja.
            “ Maaf, tapi aku sudah punya acara sabtu ini” kataku.
            “ Tidak masalah, mungkin aku bisa mengajak Arsa.. ia pasti senang, lagipula ia kan penggemar film” katanya tersenyum terpaksa, lalu berbalik, dengan muram berjalan ke mobilnya. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening, mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. Aku menghela napas, membuka mata dan masuk ke mobilku
            Ketika aku menyandarkan tubuhku di kursi sambil menerawang ke luar kaca mobil. Aku melihatnya. Yoga berdiri empat mobil dariku, memandangku penasaran, raut frustasi lebih jelas terpancar dari wajahnya. Aku balas menatap, terkejut, berharap ia akan langsung membuang muka. Tak diragukan lagi aku langsung berpaling. Tanganku mulai gemetaran. Aku buru-buru menyalakan mesin dan pergi tanpa menatapnya ketika mobilku melewatinya.
            Ketika sampai dirumah, Ayahku dan Ana belum pulang. Aku buru-buru masuk kamar, menutup pintu keras-keras dan berbaring terlentang di tempat tidur.
            Perasaan gelisah semakin kuat saat tadi aku menatapnya dan menyimpan memory wajahnya di kepalaku. Aku mulai susah bernapas, bukan karena berkeringat, tapi karena aku mengalami kesulitan dengan lubang tolol di dadaku lagi. kudekap tubuhku dengan kedua tangan dan berusaha mengenyahkan kepedihan itu dari pikiranku.
            Setidaknya aku sendirian, aku merasakan serbuan perasaan bersyukur saat menyadari hal itu. Kalau saja Ali datang kemari dan melihatku seperti ini, akan membuatnya frustasi. Ayahku untung masih bekerja, mungkin jika ia sudah pulang, ia akan merasakan perasaan sedih  dan bingung atau Ibuku mungkin akan histeris dan membawaku secara paksa ke psikiater sebelum aku mati karena gila.
            Untung saja aku sendirian!!
            Tapi hatiku sebenarnya tidak ingin sendirian, tapi aku malas untuk ke kantor Ayahku. Aku menimbang-nimbang untuk menelpon Ibuku, tapi niat itu kuurungkan.. Ibuku mengenalku sepenuhnya, jika ia mendengar suaraku yang penuh kepura-puraan akan membuatnya datang kemari.
            Mungkin aku bisa menelpon Sarah atau Ali.
            Tapi tiba-tiba aku tau, sebenarnya bukan Sarah atau Ali yang ingin ku ajak ngobrol, bukan mereka yang perlu ku ajak ngobrol.
            Aku memandang jam di dindingku, sambil menggigit bibir. 3 jam lagi Ayahku akan pulang. Mungkin aku punya waktu 1 jam untuk pergi menemui Om Roy. Aku ingat, kalau aku menyimpan nomot telepon Om Roy.
            Aku beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar sambil berlari. Sesampainya di dapur, aku mengambil telepon dan menghubungi Om Roy. Aku beruntung Om Roy sendiri yang menjawab.
            “ Halo?”
            “ Halo. Om Roy, ini saya, Tya. Yang waktu bertemu di taman alun-alun, masih ingat kan?” tanyaku memastikan om Roy masih mengingatku. Aku pasti malu jika ia tidak mengingatku.
            “ Oh, ya.. tentu saja! Sudah lama om menunggu kabarmu tya. Bagaimana kabarmu?” katanya, ia girang sekali. Aku mendesah lega ia masih mengingatku.
            “ Baik. Hari ini om sibuk tidak? Jika tidak, bagaimana jika kita bertemu?”
            “ Tentu!! Bagaimana kalau kita bertemu di taman alun-alun, tempatnya terakhir kita bertemu”
            “ Tentu om” aku menutup telepon dengan antusias. Kusambar jaketku dan berlari menuju mobilku.
            Ketika sampai taman alun-alun, ku parkir mobilku dan menunggu di bangku biasa. Aku merasa senang bisa bertemu Roy. Sekilas aku sempat penasaran mengapa aku begitu senang bertemu dengan Roy, padahal aku hanya bertemu dan mengobrol dengannya sekali. Tapi mungkin karena wajahnya mengingatkanku pada seseorang yang kurindukan, bedanya Roy memiliki garis usia di sekeliling mata dan bibirnya.
            Kedatangan Roy mengalihkan perhatianku, aku berdiri, tersenyum padanya dan menjabat tangannya. Ia duduk di sebelahku.
            “ Kamu sudah lama menungguku?” tanya Roy.
            “ Tidak”
            Roy mengamati wajahku ketika aku menjawab. Aku mendongak dan tersenyum padanya, tapi aku tau aku tidak bisa berbohong di depannya. Aku mendesah dan menundukkan kepalaku. Ia tertawa kecil, melihat kepura-puraanku yang tidak berhasil.
            “ Bagaimana kabar putra anda? Apa dia sudah lebih baik” tanyaku, memulai pembicaraan
            Ia mendesah dan menggeleng. “ Semakin buruk”
            “ Kenapa? Apa yang terjadi padanya?” kataku penasaran. Aku merasa keadaan putranya sama sepertiku. Sama-sama menderita.
            Roy mengangkat bahu.“ Entahlah, ketika pulang wajahnya begitu murung, ia tidak mau keluar kamar, mengurung diri seharian bahkan ia tidak mau makan. Pacarnya berulang kali datang ke rumah tapi ia tidak mau menemuinya”
            “ Pacarnya? Apa ia memiliki masalah dengan pacarnya?”
            “ Tidak, om rasa tidak. Setelah seminggu putra om mulai tidak merana lagi, ia mulai menemui pacarnya” katanya sambil menatapku dan tersenyum sedih. “ Tapi matanya kosong dan hampa. Seperti matamu. Tidak memiliki kehidupan, seperti kehilangan sesuatu yang berarti”
            Perkataan Roy menusukku tepat di jantungku. Aku memang kehilangan sesuatu yang berarti, bahkan lebih penting dibandingkan hidupku. Demi dia aku rela meninggalkan Amerika dan Ibuku, bahkan jika ia yang meminta aku rela meminum darahku sendiri.
            Sesaat aku ingin sekali bertemu dengan putra Roy. Kurasa kami banyak memiliki kesamaan, mungkin kami bisa berteman. Kehampaan dan kekosongan yang sama-sama kami rasakan, entah mengapa membuatku sangat mengenalnya. Seakan-akan aku sudah mengenalnya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin, bertemu dengan Roy saja baru 2 kali bagaimana mungkin aku mengenal anaknya.       
            “ Aku sudah berusaha semampuku” kataku datar. Itu benar, aku sudah sangat berusaha menenggelamkan perasaan pedihku dan berusaha bersikap sewajar mungkin pada semua orang yang ku kenal.
            “ Bahkan ucapanmu tadi sama seperti anakku, kalian memang mirip.” Katanya, terkekeh.
            “ Benarkah? Mungkin karena kami sama-sama sedang mengalami hal yang sangat berat jadi kami mirip”
            “ Mungkin” Roy sependapat, lalu tertawa.
            Kami pun mengobrol ke topik yang lebih ringan, bagaimana kabar kami, bagaimana pekerjaan Roy dan sekolahku dan aku pun menceritakan mengenai Ali. Waktu berjalan sangat cepat. Aku melirik jam tangan ternyata sudah jam 6 sore. Aku pun berpamitan dan berjanji akan menemuinya lagi.
            Aku lega ketika melihat mobil Ayahku belum terlihat di depan rumah. Aku turun dari mobil dan mengambil kunci pintu rumah di sakuku. Saat memegang kenop pintu untuk membuka kuncinya, kenop terputar dengan mudahnya. Kubiarkan pintu terbuka. Ruang depan gelap pekat.
            Aku maju selangkah memasuki rumah dan meraba-raba mencari tombol lampu, tanganku mengejang saat masih mencari tombol lampu, aku menyadari aku tidak sendirian. Aku tak mampu bernapas ataupun bergerak.
            Lampu menyala, meski tanganku yang membeku tidak juga berhasil menemukan tombol lampu.
            Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau oleh lampu yang tiba-tiba menyala, dan melihat seseorang di sana, menungguku.
            Diam tak bergerak dan putih putih, matanya yang kekanak-kanakan, yang selalu kurindukan terpaku di wajahku, tamuku menungguku, yang selalu kurindukan, bergeming di tengah ruang depan.
            Sesaat lututku gemetar, dan aku nyaris rubuh. Detik berikutnya aku menghambur menghampirinya.
            “ Mama, oh Mama!!!” pekikku, memeluknya.
            “ Tya, Mama sedih sekali!!” Mama membalas pelukanku dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku.
            Aku tidak sadar saat napasku terengah-engah berubah menjadi sesuatu yang lain. Aku baru sadar bahwa aku menangis tersedu-sedu ketika Ibuku menyeretku ke sofa ruang tamu. Ibuku mengusap-usap punggungku dengan lembut, menungguku menguasai diri kembali.
            “ Maafkan aku, Ma. Aku hanya.. senang sekali.. bertemu denganmu” isakku.
            “ Sudahlah, Tya. Semua baik-baik saja”
            “ Aku merindukanmu, Ma!!”
            Ibuku melepaskan pelukanku dan memandang wajahku dengan tajam, aku mendongak dan memandangnya dari sela-sela air mataku. Tatapannya yang diarahkan padaku sangat garang
            “ Tya, apa yang terjadi padamu? Mengapa Ayahmu menelponku terus-menerus dan membujukku untuk membawamu pergi. Aku tau darinya bahwa kau stress, maukan kamu menjelaskan semuanya pada Mama?”
            Aku menelan ludah dengan suara keras. “ Ayah menelpon Mama terus?”
            “ Ini semua karena anak lelaki itu kan? Yoga..” tebak Ibuku.  “pria yang membuatmu tinggal disini dan meninggalkan aku.. Tya, kau terlalu mencintainya dan itu sangat berbahaya. Mama kan sudah pernah bilang jangan terlalu mencintai lelaki itu. Itu tidak baik untuk kesehatanmu”  lanjutnya. “ Kamu tidak mau sekolah, makan dan melakukan sesuatu. Mama kesal pada diri Mama yang menuruti permintaanmu untuk tinggal disini”
            “ Maafkan aku, Ma!!” ucapku pelan.
            “ Sudahlah. Ayahmu terus menelpon, membuat Mama gila dan akhirnya tanpa berpikir panjang Mama langsung kemari..” Ibuku berhenti sesaat dan menarik napas dalam-dalam.           “ Mama lega melihatmu tidak sepenuhnya gila, Mama pikir sesampainya di sini Mama harus langsung membawamu ke psikiater dan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa. Jadi, Mama sudah melihatmu dan kau lumayan baik-baik saja, Mama harus kembali ke hotel sebelum Ayahmu pulang”
            Bisa kurasakan darah surut dari wajahku. Perutku langsung mulas “ Jangan pergi, Ma” bisikku. Jari-jariku menggenggam tangannya erat-erat dan aku mulai tak bisa bernapas “ Jangan pergi sekarang, Ma”
            Mata Ibuku semakin lebar. “ Baiklah”. Ia memberi penekanan pada setiap katanya
“ Mama tidak akan kemana-mana malam ini. Tenangkan dirimu, Tya”\\
            Ibuku memandangi wajahku sementara aku berusaha menenangkan diri. Ia menunggu sampai aku lebih tenang dan berkomentar.
            “ Kau kelihatan kacau sekali, Tya”
            “ Aku belum mandi, Ma dan tadi aku menangis” aku mengingatkannya.
            “ Bukan itu maksud Mama. Kau berantakan”
            Aku tersentak. Mendesah dan menundukkan kepalaku. “ Aku sudah berusaha semampuku”
            Ibuku menunggu penjelasanku. Sebelah alisnya terangkat.
            “ Ini tidak mudah. Aku sedang berjuang mengatasinya. Apa Mama berharap akan melihatku dalam keadaan ceria dan bernyanyi-nyanyi gembira? Mama kan tau aku”
            “ Betul juga” ia terdiam. “ Menurutmu Ayahmu tidak keberatan Mama menginap di sini?” tanyanya terdengar was-was.
            “ Tidak. Bukankan Ayah ingin Mama kemari untuk membujukku pulang ke Amerika”
            “ Sebentar lagi kita akan tau”
            Benar saja, beberapa detik kemudian aku mendengar suara mobil memasuki halaman. Aku bergegas dan membukakan pintu.
            Ayahku pulang bersama Ana sambil bergandengan tangan. Sesaat aku merasa kasihan pada Ibuku yang harus melihat pemandangan itu. Apa bedanya yang dirasakan Ibuku dengan apa yang kurasakan. Aku menghampiri Ayahku, Ayahku melepas gandengan tangan Ana dan memelukku.
            “ Maaf sayang, Ayah pulang telat. Tadi Ayah dan Ana mampir membeli pizza” katanya mengangkat kantong plastik putih yang bertuliskan Pizza.
            “ Tidak apa-apa” kataku.
            Sambil merangkulku, Ayahku berjalan lagi menuju pintu.
            “ Mmm.. Ayah?” kupikir lebih baik mengingatkannya dulu. “ Ayah pasti tidak menyangka siapa yang sedang ada disini sekarang”
            Ayahku menatapku kosong. Ia menoleh kebelakang tapi tidak melihat apa-apa. sebelum ia sempat bereaksi, Ibuku sudah berdiri di depan pintu. Ku dengar Ana terkesiap kaget dengan suara keras.
            “ Hai, Deni” sapanya pelan
            “ Lana?” Ayahku mengerjap-ngerjapkan mata, memandangi sosok cantik di depannya, seolah-olah meragukan penglihatannya. “ Benarkah itu kau, Lana?”
            “ Ini memang aku” Ibuku membenarkan. “ Halo Ana” sapa Ibuku sopan.
            “ Hai juga” sapa Ana canggung.
            Lengan Ayahku mencengkram bahuku.
            “ Ayah, Mama tidak usah tinggal di hotel. Mama, menginap disini boleh kan?”  pintaku
            “ Tentu saja” jawab Ayahku datar. “ Kami senang kau datang”
            “ Terima kasih” ucap Ibuku masam. Menghampiriku, dan menatap Ayahku sekilas lalu menarikku dari rangkulan Ayahku dan masuk ke dalam.
            “ Kamu kelihatan capek”
            “ Lumayan”
            Aku tidak ingin tidur. Aku ingin berjaga sepanjang malam, mengobrol dengan Ibuku. Tapi Ibuku kelelahan karena seharian di pesawat dan aku menangis seharian sehingga menguras tenagaku, jadi mataku tidak mau berkompromi. Aku tertidur dipelukkan Ibuku yang hangat dan nyaman, terhanyut dalam tidur yang lebih tenang daripada yang bisa kuharapkan.
            Aku bangun pagi-pagi sekali, dari tidur nyenyak tanpa mimpi, merasa segar bugar. Aku tertidur dikamarku bersama Ibuku, tapi Ibuku sudah tidak ada di kamarku dan aku bisa mendengarnya mengobrol dengan Ayahku di dapur.
            “ Seberapa parah keadaannya, Deni?” tanya Ibuku lirih.
            Ayahku mendesah. “ Parah sekali”
            “ Ceritakan semuanya padaku” desak Ibuku mulai khawatir.
            “ Aku tidak pernah merasa begitu tidak berdaya” kata Ayahku lambat-lambat. “ Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Dia tidak mau makan, minum juga tidak mau keluar rumah”
            “ Tapi akhirnya dia normal lagi?”
            “ Aku menyuruhnya untuk kembali padamu ke Amerika. Aku berharap dengan tinggal bersamamu itu bisa membantu. Tapi ketika aku membujuknya, aku tidak pernah melihat Tya mengamuk seperti itu. Dia bukan anak pemarah, tapi, ya ampun, saat itu dia mengamuk habis-habisan. Dia membanting barang dan berteriak-teriak, tidak mau pergi kemudian akhirnya menangis. Aku tidak membantah waktu dia tidak ingin pergi…” suara Ayahku menghilang, sulit mendengarnya mencurahkan isi hati seperti ini, tau betapa aku sangat menyusahkannya.
            “ Lalu?” desak Ibuku.
            “ Dia kembali sekolah, makan, tidur dan mengerjakan PR. Dia menjawab bila ditanya, tapi dia.. kosong. Matanya hampa. Banyak hal kecil yang hilang. Dia tidak mau bermain basket, pergi ke bioskop bahkan aku pernah melihat  kotak berwarna coklat yang berisi hadiah rusak di tong sampah. Akhirnya aku mengerti…. Tya sengaja menghindar dari segala sesuatu yang mengingatkannya pada… dia. Dia sendirian terus sepanjang waktu. Tidak pernah membalas telepon teman-temannya, dan setelah beberapa saat, mereka berhenti menelpon. Pendek kata, rasanya seperti tinggal dengan mayat hidup. Aku masih mendengar dia menjerit dalam tidurnya”
            Aku merinding. Kemudian aku mendesah. Ternyata aku tidak berhasil memperdaya Ayahku dengan berpura-pura terlihat baik-baik saja. Sedikit pun dia tidak terpedaya.
            “ Sepertinya dia sudah lebih baik sekarang” komentar Ibuku.
            “ Ya, sejak sahabatnya, Ali datang kesini tiap hari aku melihat banyak kemajuan. Pipinya mulai merona lagi bila dipandang, matanya juga kembali bercahaya. Dia lebih bahagia” kata Ayahku, aku bisa merasakan senyumannya dari nada bicaranya.
            “ Kalau begitu, untunglah Tya memiliki dia”
            Ayahku mengembuskan napas panjang. “ Entahlah…… bahkan meskipun sudah ada Ali, sesekali aku masih melihat sesuatu dimatanya, dan aku bertanya-tanya apakah aku bisa memahami betapa sakit hatinya sesungguhnya. Itu tidak normal, Lana, dan itu…..itu membuatku takut. Sama sekali tidak normal. Tidak seperti… sedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi seolah-olah seperti ada yang meninggal” suara Ayahku pecah.
            Memang seperti ada yang meninggal… seolah-olah akulah yang meninggal. Karena rasanya lebih dari sekedar cinta tak terbalas. Tapi seperti kehilangan hidupku, jiwaku, cinta sejati dan seluruh masa depanku.
            Ayahku melanjutkan ceritanya dengan nada tak berdaya. “ Aku tidak yakin apakah Tya akan bisa melupakannya… aku tak yakin apakah dia bisa sembuh dari sesuatu seperti ini. Dia bukan tipe orang yang melupakan masa lalu, atau yang bisa berubah pikiran.”
            “ Dia memang berbeda dari yang lain” Ibuku membenarkan dengan suara kering.
            Aku berbalik ke kamar, membuka pintu kamar dengan suara keras dan menguap.
            Suara-suara di dapur langsung terdiam.
            Aku menggeliat dan mengerang.
            “ Mama?” panggilku pura-pura lugu, suaraku yang parau karena tenggorokanku sakit membuat sandiwaraku semakin meyakinkan.
            “ Mama di dapur, sayang” seru Ibuku, tak ada tanda-tanda dalam suaranya bahwa ia curiga aku menguping pembicaraan mereka tadi.
            Ayahku dan Ana harus berangkat kerja saat itu. Aku dan Ibuku mengobrol tentang kehidupannya tanpaku dan pekerjaannya. Aku bahagia Ibuku mulai terbiasa tanpaku yang mengurusinya. Selain bekerja, ia mengikuti klub tinju untuk melampiaskan pekerjaannya yang melelahkan. Ibuku juga bercerita tentang pengalamannya waktu musim salju, ia bermain ice ski lalu terjatuh, aku memarahinya karena ia terlalu bersemangat bermain ice ski sehingga tidak berhati-hati.
            Ayahku dan Ana baru kembali setelah hari gelap, dan ia tampak lebih lelah daripada malam sebelumnya. ia harus dinas ke luar kota besok pagi-pagi sekali, jadi ia tidur lebih cepat. Aku tidur lagi bersama Ibuku.
            Keesokan paginya, setelah Ayahku dan Ana pergi dinas ke luar kota, aku dan Ibuku pergi berjalan-jalan sambil mengobrol. Kami pergi berkeliling kota seharian dan aku menunjukkan sekolahku, lalu membujuk Ibuku untuk melihat-lihat kedalam. Sekolah sedang libur dan kebetulan aku kenal dengan penjaga sekolah dan mengizinkan aku untuk masuk. Aku menunjukkan dimana kelasku, bangkuku, kantin, perpustakaan dan terakhir gymnasium.
            Langkahku terhenti ketika memasuki gymnasium. Aku tak berani melangkah lagi, bukan karena melihat hantu atau seseorang yang bunuh diri. Tapi sosok pucat, diam tak bergerak dan luar biasa tampan sedang memegang bola basket sambil memandanginya. Aku melihat wajahnya yang kesakitan dan kesedihannya menyakiti dadaku. Samar-samar aku menyadari Ibuku sedang memandangi wajahku lalu memandangi Yoga secara bergantian.
            Aku tak sanggup menanggung kesakitan ini. Aku capek sekali hingga rasanya ingin ambruk ke lantai saat itu juga. Tubuhku limbung, dan aku berjuang keras menjaga mataku tetap terbuka.
            “ Tya?” bisik Ibuku was-was. Dirangkulnya bahuku dan menuntunku keluar dari gymnasium. Begitu masuk mobil aku menyandarkan diri lalu memejamkan mataku. Aku mulai mengantuk dan samar-samar mendengar apa-yang dikatakan Ibuku.
            “ Kalian memiliki eskpresi yang sama. Kosong dan hampa… kenapa kau begitu bodoh, anakku? Dia mencintaimu!! Mama bisa merasakannya. Sekarang, Mama tidak perlu menemanimu lagi. selesaikan semuanya dengan baik” bisik Ibuku, suaranya yang pelan ditambah kepalaku yang berat membuatku kembali tidak sadar.
            “ Mmmm” desahku.
            Ia mengatakan sesuatu yang lain, suaranya pelan, tapi aku sudah tertidur pulas di mobil.
            Aku terbangun dalam keadaan shock, melihat mimpi burukku yang kuusahakan untuk tidak ku ingat-ingat. Mimpiku selalu sama.. kosong dan hampa membuatku tertekan dan akhirnya menjerit-jerit.
            Ketika aku terbangun, aku sudah berada di tempat tidur. Cahaya matahari menerobos masuk ke jendelaku. Ternyata aku tidur sangat lama dan membuat kepalaku pusing. Keringat terasa lengket di pelipisku dan mengalir menuruni leher.
            Aku terduduk. Tanganku menggapai-gapai di seprai dan mendapampati tempat tidur kosong.
            “ Mama?”
            Jari-jariku menemukan surat diatas bantal.
sayang Mama harus segera kembali ke Amerika. Mama tidak bisa lama di sini karena mama harus bekerja. Kau harus  menyelesaikan masalahmu dengan sebaik mungkin. Percayalah semuanya akan baik-baik saja dan kau akan kembali ceria ketika aku kembali ke sana. Jangan membuat Ayahmu dan Ana khawatir.. itu tidak baik!!.
Aku sangat menyayangimu.
            Aku mendesah. Tentu saja Ibuku harus kembali ke Amerika, jadi seharusnya aku tidak mengharapkkan Ibuku tinggal disini.
            Samar-samar aku mengingat apa yang dikatakan Ibuku ketika aku hampir tertidur. Kalau tidak salah, ia mengatakan jika aku bodoh dan Ibuku merasakan sesuatu.. tapi aku lupa. Mungkin aku hanya bermimpi Ibuku bicara padaku.
            Aku menyeka keringat dari dahiku. Aku tidak lagi mengantuk, tapi kepalaku pusing sekali. Aku berdiri dan keluar dari kamarku menuju dapur. Aku lapar sekali.
            Ketika sampai, aku mendapati Ayahku sedang membaca Koran dan Ana sedang menyiapkan sarapan untukku. Ayahku ternyata pulang cepat dari pekerjaannya ke luar kota, kupikir ia akan pergi lama sekali. Syukurlah aku tidak perlu sendirian di rumah beberapa hari.

            “ Akhirnya bangun juga kau, tukang tidur” kata Ayahku padaku waktu aku duduk di sebelahnya. “ Ibumu sudah kembali ke Amerika dini hari”
            “ Aku tau. Ayah tidak pergi kerja?” tanyaku. Padahal ini hari kerja, rasanya aneh melihat Ayahku dan Ana berada di rumah pada hari biasa.
            “ Kami libur sehari. Kemarin kami harus ke luar kota, jadi kantor memberikan kami libur sehari untuk beristirahat” jawab Ana saat meletakkan piring berisi roti dan segelas susu di hadapanku. Aku langsung menyantapnya.
            “ Hari ini sekolah masih libur kan? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Ayahku sambil mencondongkan tubuh menghadapku.
            “ Aku mau main ke rumah Ali” jawabku. Hari ini aku memang berniat ke rumahnya.
            “ Oh” ujarnya.
            Di luar entah mengapa cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi mendung dan hujan. Aku mengenakan jaket tebalku dan berjalan menuju mobilku.
            Diluar hujan turun seperti air ditumpahkan dari ember. Aku harus mengendarai mobilku pelan-pelan, aku nyaris tidak bisa melihat mobil lain di depan mobilku. Tapi akhirnya sampai juga di depan rumah Ali. Sebelum aku sempat mematikan mesin, pintu depan sudah terbuka dan Ali berlari menghampiriku sambil membawa payung hitam besar.
            Ia memegangi payung itu menaungi pintu mobilku.
            “ Tya!!” cengiran senang tersungging lebar di wajahnya. Wajahnya yang tampan membuat senyumannya begitu indah.
            “ Hai, Ali!!” aku tersenyum senang dan aku benar-benar bahagia bertemu dengannya.
            Ali merangkul bahuku dan menuntunku masuk kerumahnya. Rumahnya kosong, luas dan nyaman. Ayahnya sepertinya pegi bekerja. Kami duduk di ruang tamu dan Ali langsung menyalakan penghangat ruangan.
            “ Aku ambilkan minum untukmu” katanya berjalan menuju dapur.
            Aku mengangguk. Aku berdiri dari sofa dan berjalan sambil mengamati ruang tamunya yang luas. Ali sebenarnya kaya, tapi ia tidak pernah menunjukkannya. Ia lebih senang dengan kehidupan sederhana. Ia tidak pernah keberatan menemaniku makan di warung murahan atau mengantarku membeli buku di kios-kios kumuh.
            Ali juga popular di sekolah. Ia atlit basket, pintar dan juga memiliki wajah yang tampan serta postur tubuh yang tinggi dan proporsional. Ali dan dia memang pria tertampan di sekolah kami, hanya bedanya dia lebih indah, sopan dan ramah. Memikirkannya membuat dadaku sakit, cepat-cepat kualihkan perhatianku pada foto yang terpajang di dinding.
            Foto Ibu Ali. Sangat cantik dan lembut. Ada perasaan iba di hatiku, wanita secantik itu kasihan sekali bernasib malang. Meninggal dalam usia muda dan tragis.
            “ Sedang melihat apa?” tanya Ali membuyarkan lamunanku. Aku terlonjak kaget.
            “ Aduh, Ali kau mengagetkan aku”
            “ Maaf. Kenapa kau tidak menelponku kalau mau kesini?” tanyanya sambil meraih tanganku dan memainkannya.
            “ Kejutan” kataku sambil memandang tanganku yang di genggamnya. Ada perasaan senang dalam hatiku ketika ia menyentuhku. Aku yakin ini hanya perasaan persahabatan.
            “ Aku senang kau kemari. Aku kesepian di rumah” katanya sambil memandang foto Ibunya di depan kami. Ali menggigit bibir bawahnya dan meremas tangannya. Kelihatannya ia mau menangis.
            Ku tarik tanganku dari genggamannya dan kuangkat lenganku kepinggangnya, memeluknya. Ia membelai rambutku.
            “ Jangan sedih.. sekarang aku di sini” bisikku pelan.
            “ Aku tidak sedih” tukasnya, memelukku semakin erat. Aku menempelkan tubuhku ke tubuhnya.
            “ Bohong…” kataku sambil terkekeh pelan, ia ikut terkekeh juga.
            Ali melepaskan pelukannya, wajahnya langsung berubah serius dan khawatir. “ Kau.. sudah bisa melupakan dia… maksudku Yoga…”
            Kutatap ia dengan pandangan kosong. Ketika Ia menyebut namanya membuat aku gemetar dan pertahananku runtuh… aku menangis.
            “ Tya??” tanya Ali was-was, menyentuh pipiku.
            Aku tidak bisa menjawab. Ku dekap dadaku erat-erat, aku menangis tersedu-sedu. Hatiku perih karena mendengar namanya dan menghadapi kenyataan bahwa aku belum bisa melupakan dia.
            Ali mengelus-elus rambutku. “ Sudahlah, Tya, sudahlah. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. maafkan aku”
            Ali mengangkatku dengan lembut, dan berjalan menuju sofa, ia meletakkanku di pangkuannya. Aku memeluk lehernya erat-erat.
            “ Kau tidak salah” erangku di bahu Ali. “ Aku tidak apa-apa” aku melepas tangaku dari lehernya dan mendekap dadaku lagi.
            “ Mengapa kau selalu melakukan itu” tanyanya. Ia menarik pelan satu lenganku, yang mendekap dada, kemudian menyerah waktu aku bersikeras tidak mau melakukannya. Aku bahkan tak sadar telah mendekap dada. “ Kau selalu berbuat begitu setiap kali kau merasa sedih. Mengapa?”
            “ Sakit rasanya memikirkan dia” bisikku. “ Rasanya aku tak bisa bernapas… seolah-olah aku pecah berkeping-keping” sungguh aneh betapa banyaknya yang bisa kuungkapkan pada Ali sekarang.
            “ Tenanglah… ada aku!! Setidaknya kita masih memiliki satu sama lain” kata Ali, jelas-jelas merasa terhibur oleh pemikiran itu.
            Aku juga merasa terhibur. “ Benar” aku sependapat.
            Ia menurunkan aku, dan aku kini duduk disebelahnya, aku menggelung rapat di lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku memandangnya, matanya terpejam. Sepertinya ia kurang tidur. Aku membiarkannya dan pikiranku mulai berkelana.
            Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa Ali sekarang.. berusaha membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Bagaimanapun ia telah menjadi bagian terpenting yang membuatku bertahan hidup.
            Aku berharap Ali adalah saudara lelakiku. Aku sadar bahwa hati kecilku menginginkannya menjadi milikku. Rasanya seperti bukan saudara jika ia menyentuhku seperti ini. Sentuhannya menghangatkan, nyaman dan aman. Ali adalah pelabuhan yang aman.
            Ali menghentikan mobilku di depan rumah, ia bersikeras untuk mengantarku pulang. Ia mematikan mesin hingga kesunyian tiba-tiba menyergap.
            Ali mengulurkan lengannya yang lain untuk memelukku, meremukkanku ke dadanya, mendekapku erat-erat. Lagi-lagi rasanya menyenangkan. Nyaris seperti manusia utuh lagi. Ali menempelkan pipinya yang hangat ke puncak kepalaku.
            Jika aku memalingkan wajahku ke samping, aku tau benar apa yang selanjutnya terjadi. Mudah sekali.
            Tapi bisakah aku melakukannya? Mampukah aku mengkhianati hatiku yang hampa demi menyelamatkan hidupku yang menyedihkan?
            Ali merasakan tubuhku mengejang, ia melepas pelukannya. Aku mendesah, kucium pipinya dan keluar dari mobil. Ia mengikutiku ketika keluar, aku melambai padanya di ambang pintu. Ia mambalas melambai, berbalik dan berjalan menjauh dari pandanganku. 
            Sesampainya di dalam, aku bergegas menuju tangga, tapi Ayahku membuntuti tepat di belakangku. Aku tidak menyadari sejak kapan Ayahku berada dibelakangku.
            “Hai Ayah” sapaku terkejut. Ayahku bersandar di tiang tangga, sambil melipat kedua tangannya di dada.
            “ Senang, main kerumah Ali?” tanya Ayahku curiga.
            “ Senang” jawabku datar. “ Ayah, aku capek. Mau tidur. Ayah bisa kan memberiku privasi? Aku benar-benar ngantuk” kataku sambil mendorong bahu Ayahku menuju anak tangga. Ayahku memandangku curiga, tapi aku buru-buru masuk kamar dan mengunci kamarku.
            Setelah mandi dan mengganti bajuku dengan piyama, aku merangkak ke tempat tidur dan duduk di tengah ranjang sambil melamun. Hatiku diliputi perasaan bersalah.
            Seharusnya aku tidak memberi harapan pada Ali. Kalau ia merasa masih ada harapan, walaupun sedikit, untuk mengubah hubungan ini menjadi lebih dari sekedar persahabatan, itu berarti aku masih kurang jelas dalam memberinya penjelasan.
            Bagaimana caraku menjelaskan supaya ia mengerti? Aku ini cangkang kosong. Ibarat rumah tak berpenghuni. Walaupun sekarang lebih baik karena ruang depan telah diperbaiki. Tapi hanyalah ruangan kecil. Padahal Ali pantas mendapatkan yang lebih baik daripada itu, lebih baik daripada mendapatkan ruangan kecil.
            Aku tau aku takkan bisa menjauhinya, bagaimana pun juga. Aku terlalu membutuhkannya, dan aku egois.
            Seandainya saja Ali terlahir sebagai saudara lelakiku, sehingga aku memiliki hak atas dirinya yang membuatku bebas dari perasaan bersalah. Tuhan tau aku tidak pernah berniat memanfaatkan Ali. Tapi perasaan bersalah yang kurasakan sekarang membuatku berpikir mungkin itulah yang kulakukan.
            Aku tidak pernah berniat mencintainya atau mungkin aku memang menyayanginya tapi tidak mencintainya. Aku membutuhkan Ali sekarang, membutuhkannya seperti obat. Tapi aku tidak bisa membalas perasaannya. Karena aku menyerah untuk mengelaknya.. aku sekarang mengakui bahwa perasaanku tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai dia. Seseorang yang tidak pernah melihatku sebagai wanita yang pantas mendapatkan cintanya.
            Aku mengerang, berbaring dan menutup tubuhku dengan selimut. Aku berharap, masa-masa ini akan segera berakhir. Aku ingin cepat-cepat lulus SMA, kuliah dan tinggal bersama Ibuku lagi. mungkin, dengan pergi jauh dari sini akan membantuku untuk melupakan dia dan memulai hidup baru. Aku akan menemukan cinta baru, seseorang yang bisa membalas cintaku, menikah dan memiliki anak. Ya!! Aku harus sesegera mungkin keluar dari Negara ini.
            Keesokan harinya aku terbangun pagi-pagi sekali. Tenggorokanku kering kerontang. Tak diragukan lagi semalaman aku pasti berteriak dalam tidurku.
            Perlahan-lahan aku bangkit, berusaha untuk tidak memicu timbulnya rasa mual. Aku lemah, dan mulutku tidak enak, tapi perutku baik-baik saja. Kulirik jam, jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Aku bergegas siap-siap untuk sekolah.
            Seperti biasa, sekolah berjalan sangat lancar. Aku bersyukur karena hari ini tidak bertemu kedua pasangan itu. Tapi perasaanku gelisah dan khawatir.
            Pertama kalinya Ali tidak sekolah, tidak ada keterangan mengapa ia tidak sekolah. Sarah sudah berusaha menelponnya berkali-kali tapi HP nya tidak aktif dan telepon rumahnya tidak diangkat. Seakan-akan rumahnya kosong.
            Sabtunya kuputuskan untuk menemui Ali. Aku sangat cemas karena sudah seminggu tidak ada kabar darinya. Sekolah menjadi membosankan tanpa Ali. Tanpa Ali, aku terlalu sering diam dirumah dan tidak ada kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, semua yang selama ini kutekan mulai menghantuiku lagi. mimpi buruk mulai menghiasi malamku. Hasilnya, aku selalu terbangun setelah menjerit ketakutan, setiap malam.
            Lubang dadaku kini semakin parah. Kusangka aku sudah bisa mengendalikannya, tapi aku mendapati diriku meringkuk, setiap hari, sambil mencengkram pinggang dan megap-megap kehabisan udara.
            Aku tak mampu menghadapi kesendirian dengan baik.
            Aku sangat lega di pagi hari ketika aku terbangun, setelah menjerit dan teringat bahwa hari ini adalah hari sabtu. Berarti hari ini aku akan bertemu Ali.
            “ Mau kemana?” tanya Ayahku ketika aku terburu-buru menuruni anak tangga, sambil memegang kunci mobil.
            “ Ke rumah Ali” kataku jujur.
            “ Sekarang masih terlalu pagi untuk datang ke rumah Ali” ayahku menatapku curiga.
            “ Tapi aku ingin bertemu Ali. Sudah seminggu Ali tidak sekolah, ia tidak bisa dihubungi. Sepertinya Ali sakit. Boleh ya, Ayah?” kataku mulai merengek seperti anak kecil
            Ayahku terdiam sebentar, lalu memandangi wajahku. Aku memperlihatkan wajah mengiba-iba padanya. Ia menghembuskan napas berat lalu mengangguk. Aku tersenyum lebar dan mengecup pipi Ayahku. Ayahku memutar bola matanya, dan kudengar Ana tertawa kecil disebelahnya.
            Aku mengendarai mobilku dengan cepat. Tidak sabar untuk melihat wajah Ali. Aku akan merasa tenang jika tau tentang keadaannya. Sesampainya, aku memarkirkan mobilku di halamannya yang luas. Aku keluar dari mobilku dan berjalan menuju rumahnya. Sebelum aku mengetuk pintu, pintu sudah terbuka. Ali menyambut kedatanganku.
            Memang benar Ali sakit. Wajahnya pucat, badannya kurus, kelopak matanya turun dan ia tampak sangat letih. Tapi, matanya berbinar-binar begitu melihatku. Ditariknya aku kedalam dan dipeluknya aku erat-erat, hingga aku sulit bernapas. Setelah beberapa menit, ia melepas pelukannya dan mulai mencium pipiku, keningku dan telapak tanganku.
            “ Kau baik-baik saja?” kataku ketika, bibirnya mulai merayapi daguku. Aku terkejut dan mendorong bahunya. Ia menatapku sedih dan aku langsung memeluknya lagi.
            “ Tidak juga. Tapi aku senang kau datang, jadi keadaanku sekarang membaik… aku sangat merindukanmu”
            “ Kenapa kau tidak menelponku? Aku kan cemas. HP mu tidak aktif dan ketika aku telepon ke rumahmu tidak ada yang mengangkat” kataku sambil mengusap pipinya, ia pun mengusap pipiku dengan sebelah tangan, dan sebelah tangannya lagi memeluk pinggangku.
            “ Maafkan aku. Seminggu ini aku pergi ke Singapur untuk membantu Ayahku bekerja. HP ku hilang disana.. maafkan aku” katanya dengan tulus.
            “ Sudahlah. Aku senang bertemu denganmu sekarang”
            Tangan Ali yang mengusap pipiku, beralih kedaguku dan mengangkatnya, memaksaku untuk menatapnya. Kami saling memandang lama sekali.
            Ia melepaskanku, mengangkat tangannya yang lain untuk membelai pipiku dengan ujung-ujung jari, terus hingga ke dagu. Aku bisa merasakan jari-jarinya gemetar. Ia menaruh telapak tangannya kepipiku, sehingga wajahku terperangkap oleh kedua tangannya yang panas.
            “ Tya” bisiknya.
            Aku membeku.
            Tidak! Aku belum mengambil keputusan tentang ini. Entah apakah aku mampu melakukannya, dan sekarang aku tak bisa berpikir. Tapi sungguh tolol jika aku mengira menolaknya sekarang takkan menghasilkan konsekuensi apa-apa.
            Aku membalas tatapannya.. ia bukanlah orang yang kucintai tapi ia bisa menjadi milikku. Wajahnya sangat kukenal dan kusayangi. Dalam begitu banyak hal, aku memang mencintainya. Ia penghiburku, pelabuhanku yang aman. Sekarang ini aku bisa memilih untuk menjadikannya milikku.
            Cinta sejati telah hilang selama-lamanya dan takkan pernah menjadi milikku, karena ia telah mengambil keputusan untuk memilih seseorang yang baik menurutnya. Jadi, apa salahnya memberikan ciuman pada Ali.
            Mungkin akan mudah seperti menggenggam tangannya atau dirangkul olehnya. Mungkin akan terasa menyenangkan. Mungkin tidak akan terasa seperti pengkhianatan. Lagipula, memangnya aku mengkhianati siapa? Hanya diriku.
            Sambil tetap menatap mataku, Ali mulai mendekatkan wajahnya ke wajaku. Tapi aku masih belum bisa memutuskan.
            Dering HP ku membuat kami sama-sama melompat kaget. Aku mengambil HP di sakuku, sebelum mengangkat aku melihat nomor yang tidak kukenal.
            “ Halo?” jawabku ketika kuletakkan HP ku ditelinga.
            “ Tya? Ini om Roy”
            Aku berdeham-deham, menyingkirkan gumpalan di tenggorokanku. “ Om? Ada apa menelponku?” tanyaku girang. Sedetik Ali menatapku dengan sorot curiga, sebelum berbalik dan duduk di sofa.
            “ Om ingin mengundangmu makan malam di rumah om hari selasa”
            “ Dalam rangka apa?”
            “ Tidak ada rangka apa-apa. mungkin, jika kamu mau kita bisa menyebutnya rangka pengakuan” kata Roy sambil terkekeh.
            “ Pengakuan? Memangnya ada pengakuan apa?” tanyaku penasaran.
            “ Nanti kamu tau sendiri. Bagaimana? Bisa kan hari selasa?” Tanya Roy. Nadanya terdengar berharap.
            “ Tentu” aku menyetujui. Lalu terdiam sebentar. “ Apa aku bisa bertemu dengan putra om, nanti?” tanyaku. Aku penasaran dengan putra Roy dan berharap akan segera bertemu dengannya.
            “ Tentu. Dia akan bergabung dengan kita” nada suaranya misterius. Sepertinya ada yang disembunyikannya.  “ Paman akan menjemputmu di sekolah, bagaimana?”
            “ Tentu. Sampai nanti Paman” kututup HP ku dan berbalik duduk disebelah Ali.
            “ Siapa?” tanyanya ketika Aku duduk disebelahnya.
            “ Teman” jawabku cepat.
            Ali mencondongkan tubuhnya menghadapku, sehingga ia bisa jelas melihatku. Ia menelengkan kepala, mungkin bingung mendengar nada tidak suka dalam suaraku.
            “ Waktu aku jalan-jalan ke taman alun-alun, tidak sengaja aku berkenalan dengan seseorang. Kami mengobrol dan akhirnya berteman” jelasku cepat.
            “ Mengobrol? Mengobrol tentang apa?”
            “ Anaknya.”
            Ali menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa. Aku memandangnya. Ia terlihat sangat letih. Aku mengelus-elus rambutnya.
            “ Kau sangat berantakan” komentarku. Masih tetap menatapnya.
            “ Minggu ini benar-benar melelahkan. Pekerjaan Ayahku benar-benar banyak, sehari kami pergi ke 3 tempat dan hanya tidur selama 3 jam.” Jelasnya sambil menguap. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kugosok-gosok bahunya.
            Lama kemudian baru Ali meraih tanganku dan menempelkannya di wajah. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memandang wajahku.
            “ Ada apa?” tanyaku merasa risih ia terus memandangku.
            “ Aku tau kau tidak merasakan seperti apa yang kurasakan, Tya. Tapi aku akan tetap menunggumu”
            Napasku melejit satu tingkat, mengamplas dinding-dinding tenggorokanku.
            Tidak mungkinkah Yoga, meski terkesan tidak peduli, ingin agar aku bahagia? Tidakkah masih tersisa sedikit perasaan sayang sebagai teman dalam dirinya untuk menginginkan itu bagiku? Kurasa pasti masih.
            Aku memalingkan wajah dari tatapannya dan melepaskan tanganku dari wajahnya. Kutepuk-tepuk kepalanya, berusaha menghaluskan anak-anak rambutnya yang awut-awutan. Lagi-lagi Ali menguap.
            “ Ali, lebih baik kau tidur. Kau butuh banyak istirahat. Aku harus pulang” kataku mulai beranjak untuk berdiri.
            “ Jangan!” sergah Ali, menyambar tanganku. “ Tidak, jangan kemana-mana”
            Sebenarnya aku tidak ingin pergi, aku masih ingin bersama Ali. Tapi aku harus memberinya kesempatan untuknya beristirahat. Jika aku terus disini, ia tidak akan bisa beristirahat total.
            Aku tersenyum padanya. “ Aku benar-benar harus pulang. Istirahat ya! Aku ingin kamu senin bisa sekolah lagi”
            Ia mengangguk lemah. Ketika aku mencium pipinya, ia juga mencium pipiku, keningku dan tanganku, seperti yang tadi ia lakukan ketika aku datang. Aku langsung berdiri ketika ia hampir mencium sudut bibirku dan keluar dari rumahnya menuju mobilku.
            Ketika hari senin. Ayahku dan Ana sudah berangkat sebelum aku turun. Aku sarapan semangkuk  sereal dan jus jeruk. Aku merasa sangat besemangat untu pergi ke sekolah, dan ini membuatku takut. Aku tau bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku semangat, ataupun bertemu teman-temanku. Kalau mau jujur, semangatku pergi ke sekolah lebih karena akan bertemu Ali. Dan itu sangat, sangat bodoh.
            Aku seharusnya menghindari Ali, sebelum ia sangat yakin aku akan memberinya harapan yang kosong. Jadi, tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini.
            Sambil mengemudi ke sekolah, kualihkan ketakutanku bertemu dia, dengan memikirkan Ali. Tapi, sangat sulit mengalihkan pikiran karena hatiku menjerit ingin memikirkannya. Aku merindukannya. Hampir 6 bulan hubunganku berantakan begitu juga dengan kehidupanku.lagi-lagi memikirkannya membuat tanganku gemetar, perutku mulas dan mataku panas. Aku mengirup napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diriku.
            Ketika turun dari mobil sesampainya di sekolah. Aku langsung berjalan menuju kelas, seperti biasa. Namun, langkahku terhenti ketika melihat pemandangan yang tidak biasa di anak tangga, ketika aku menuju kelasku. Seorang wanita cantik yang duduk tak berdaya di anak tangga.
            Intan. Aku pernah melihatnya marah, dan aku pernah melihatnya bersikap arogan. Tapi ini.. ini benar-benar mengejutkan. Matanya kosong. Ia tidak mendongak untuk memelototiku. Ia menunduk memandangi lantai dengan ekspresi seolah-olah ada yang membakarnya. Sama seperti ekspresiku dan…. Yoga.
            Aku bahkan tidak bisa menikmati penderitaan Intan. Karena, bagaimana bisa aku menikmatinya sedangkan sekarang aku merasa sangat menderita. Aku mendesah dan membalikkan badanku. Lebih baik membolos daripada harus melihatnya seperti ini.
            “ Tya” panggil Intan pelan, ketika aku berbalik.
            Pelan-pelan aku membalikkan tubuhku dan menghadapnya. Ia menggeser posisinya dan menyuruhku untuk duduk disampingnya. Aku menurutinya dan duduk disampingnya. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling. Sekolah sangat sepi, itu berarti jam pelajaran sudah dimulai.
            “ Kau tidak keberatan bicara denganku?” tanya Intan.
            “ Tidak, tentu kita bisa bicara” entah apakah ia bisa mendengar nada waswas dalam suaraku sama jelasnya seperti aku bisa mendengarnya.
            Apa yang ingin dibicarakan Intan? Sampai-sampai ia harus membolos. Tanganku meremas-remas gelisah.
            “ Apa Yoga sudah bicara padamu?” tanyanya. Wajahnya yang cantik dan tak berdaya tadi, berubah menjadi sosok yang tidak ramah.
            Aku mengejang. Lagi-lagi nama itu menusuk-nusuk jantungku. Tanganku mulai gemetar, aku mendekap dadaku erat-erat. “ Bicara apa?” tanyaku kaku.
            “ Aku putus dengannya” jelasnya. Kini terdengar nada pedih dalam suaranya.
            “ Kenapa?” tanyaku, suaraku terdengar bingung.
            Intan mendongak menatapku dan tersenyum, ekspresinya keras dan pahit. Namun tetap mempesona.
            “ Ada masalah” jawabnya.
            “ Masalah apa?” tanyaku, walaupun aku tidak ingin mendengarnya.
            Aku menunggu sementara Intan memandang ke depan. Tampaknya ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
            “ Aku memutuskannya kemarin. Dari dulu aku sudah tau ia tidak mencintaiku.. tapi aku memaksanya untuk berpacaran denganku, karena kuharap ia akan mulai mencintaiku jika kami selalu bersama” ia berpaling padaku, wajahnya tampak tersiksa.
            Aku tidak sanggup untuk bicara. Aku bingung mendengarnya. Kutatap ia sambil menjernihkan kepalaku.
            “ Ia tidak pernah mencintaiku” jelasnya, membalas tatapanku.
            “ Aku. Tidak. Mengerti” mulutku membentuk setiap kata tanpa suara. Aku tidak sanggup mendorong udara keluar dari mulutku untuk mengucapkan kata-kata yang akan membuat Intan menjelaskan maksudnya.
            “ Sejak ia masuk SMA dan menjadi anggota klub basket, aku sudah tertarik padanya. Ia tampan, bahkan sangat tampan. Tidak ada wanita yang tidak meliriknya ketika ia ada. Aku sangat menginginkannya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya, tapi ia membuatku jengkel sejak pertama kali aku mendengarnya bicara. Aku terbiasa diinginkan. Sementara Yoga sedikitpun tidak tertarik padaku. Itu membuatku frustasi, bahkan tersinggung awalnya. Tapi, aku semakin mencintainya.. dia membuatku merasa tertantang. Setiap hari aku menelponnya, awalnya ia merasa terganggu tapi akhirnya ia mulai menerimaku dengan baik. Aku memaksanya untuk membawaku kerumahnya. Awalnya ia menolak, tapi aku memaksa dan nekad mengikutinya” ia terdiam sebentar, dan melirikku. “ Akhirnya ia bersedia berpacaran denganku, tapi ia tidak berjanji akan bisa mencintaiku. Aku tidak peduli. Bagiku, asalkan dia menjadi milikku itu sudah lebih dari cukup.
            “ Akhirnya kami berpacaran dan aku merasa menjadi wanita paling bahagia. Tapi, setiap aku memandang wajahnya hatiku terasa pedih. Matanya kosong dan hampa.. sepertimu”
            Intan tiba-tiba menatapku, seolah-olah lupa aku ada disana. Aku yakin wajahku pasti pucat pasi seperti wajahnya.
            “ Aku memang memilikinya” kata Intan pelan. “ Tapi hanya fisik bukanlah hati. Aku sadar bahwa aku lebih menginginkan hatinya yang lembut.. aku ingin ia mencintaiku, seperti aku mencintainya. Tapi itu hanyalah khayalan yang sia-sia. Selama berpacaran denganku, ia tidak bahagia. Ketika aku ke rumahnya, ia sering mengurung diri di kamar, tidak mau makan bahkan tidak ingin bergerak. Aku tidak tahan melihatnya seperti itu. Aku ingin dia bahagia.. dia tidak bahagia bersamaku… akhirnya aku memutuskan hubunganku dengannya”
            Ketika suara Yoga terngiang kembali dalam ingatanku, nada suaranya ceria seperti yang terekam dalam ingatanku. Tapi kata-katanya saja sudah cukup mengoyak dadaku dan membuatnya menganga lebar. Kata-kata itu berasal dari saat ketika aku berani mempertaruhkan segala yang kumiliki bahwa ia jatuh cinta pada Intan.
            Intan.. mantan ketua osis. Kata Yoga waktu itu kami selesai bermain basket. Aku berkenalan dengannya dan ia menarik perhatianku. Kau tau kan aku suka wanita seperti Intan. Bermata coklat, berambut keriting, postur tubuh yang tinggi dan berisi.. tadi ia datang untuk melihat klub basket putra berlatih dan akhirnya kami mengobrol. Aku suka dia, mungkin dia memang gadis yang sejak dulu kucari.. kau harus mendukung dan membantuku untuk mendapatkan Intan, ya.
            “ Intan, sepertinya kau keliru. Aku sangat yakin kalau Yoga mencintaimu. Setiap bersama denganku ia selalu membicarakanmu… aku sangat yakin kau keliru” kataku pelan. Sakit rasanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku.
            Intan tersenyum dan menggeleng. “ Tidak, aku tau benar siapa yang ia cintai”
            “ Siapa?” tanyaku, mendadak waswas.
            Intan menggerakkan kepalanya maju-mundur, geli. “ Kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh? Aku panjang lebar menceritakan ini masa kau tidak paham-paham juga? Astaga, kau ini memang benar-benar aneh” Intan menatapku bingung.
            “ Tapi aku memang tidak mengerti” kataku. Jawaban Intan membuatku bingung. Aku memandanginya, berusaha memahami maksudnya.
            Dengan perasaan mual, aku pun memahami maksudnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menjernihkan kepala. Hatiku bersorak-sorak, tapi aku mencoba tenang. Aku takut ini hanya kebohongan saja.
            “ Kau pasti salah, aku tau benar siapa dia. Jika dia memang… menyukaiku, kenapa ia tidak langsung saja mengatakannya”
            “ Entahlah. Pikirkan baik-baik tentang semua ini “ ia menepuk-nepuk kepalaku.
            Aku mendesah. “ Terima kasih, Intan. Senang akhirnya hubungan kita menjadi lebih baik..”
            “ Maaf kalau selama ini sikapku sangat buruk” Intan tersenyum “ Aku akan berusaha memperbaiki sikap mulai sekarang”
            Mungkin dari sekaranglah persahabatan kami dimulai. Kami saling tersenyum dan ia memeluk leherku, aku balas memeluknya.
            “ Aku harus pegi sekarang. Apa kau tetap akan mengikuti jam pelajaran selanjutnya?” tanya Intan melepas pelukannya.
            “ Tidak. Aku mau pulang saja, kau?”
            “ Aku merasa kurang enak badan. Aku mau tidur di UKS” Intan bangkit dan berjalan ke atas tangga. “ Sampai jumpa, Tya” bisiknya.
            “ Sampai jumpa, Intan” kataku terlambat.
            Aku berjalan ke mobilku sambil melamun.
            Mana mungkin Yoga menyukaiku? Apa yang menarik dari diriku baginya. Secara fisik, aku sama sekali bukan tipenya. Aku yakin Intan pasti berbohong, mungkin ia mengatakan begitu padaku karena kasihan melihatku.
            Tapi.. jika Yoga memang menyukaiku, kenapa ia tidak mengatakannya padaku sejak dulu? Apa iya takut ditolak olehku. Sungguh pemikiran yang sangat bodoh. Memangnya ia tidak menyadari perasaanku sedikit pun? Memangnya aku begitu pintar bersandiwara sehingga ia berpikir bahwa aku hanya menyukainya sebagai teman biasa?. Padahal Sarah tau bagaimana perasaanku pada Yoga, yang katanya sangat jelas tergambar pada ekspresiku.
            Aku pun akhirnya membolos dan kembali pulang kerumah. Pikiranku sibuk berkelana kemana-mana. Ayahku dan Ana sudah pergi untuk bekerja. Alhasil, aku sendirian dirumah. Aku kesal sendirian. Aku tidak ingin dirumah sendirian. Dibalik kesal karena kesendirian, aku merasa sangat bingung. Semua ini benar-benar konyol. Mana mungkin Yoga bersikap acuh pada Intan? Sedangkan aku sering melihat Yoga bermesraan dengan mataku sendiri.
Satu hal yang aku yakin, kalau memang yakin. Tomy pernah memberitahuku kalau setahun yang lalu, Yoga membeli cincin mahal untuk pasangan. Bahkan Tomy mengatakan juga, jika Yoga membeli cincin itu untuknya dan Intan. Tidak ada aku di dalamnya.
            Mungkin Intan memang berbohong. Ia merasa iba melihat keadaanku dan menghiburku seperti yang ia lakukan pagi ini. Aku sangat menghargai keprihatinannya. Tapi itu membuat harga diriku sangat rendah. Aku tak ingin ada yang kasihan padaku. Tetapi kehidupanku yang hancur memang akan membuat siapa saja ikut bersimpati.
            Aku mengerang dan menepuk-nepuk kepalaku dengan kedua tanganku. Aku berusaha menghilangkan pikiran yang menyakitkan ini. Untuk mengalihkan pikiran, aku menuju dapur dan mengambil beberapa cemilan, mengambil kaset film horror di kamarku dan menayangkannya di TV ruang depan.
            Perasaanku benar-benar lega setelah menonton film horror. Bahkan aku tertawa keras-keras ketika hantu kuntilanak keluar dari sumur. Mungkin orang normal akan menjerit-jerit ketakutan melihat adegan itu. Tapi, aku sudah menabahkan hati dan mengakui bahwa aku bukanlah orang yang normal.
            Akhirnya aku menonton 3 film horror sekaligus dan hatiku begitu lega karena bisa tertawa sekeras-kerasnya ketika sudah dimulainya adegan menegangkan. Aku tidak menyadari bahwa hari sudah gelap. Aku melihat sekelilingku, ruangan begitu gelap. Terpikir olehku untuk bangkit dan menyalakan lampu, tapi aku begitu malas untuk berdiri.
            Tiba-tiba saja suara pintu yang terbuka mengejutkanku, lampu menyala, aku mengejap-ngejapkan mata, buta sesaat lalu kembali fokus. Ayahku memandangku dengan ekspresi heran dan menggeleng-gelengkan kepala ketika matanya beralih ke TV. Aku nyengir, ketika mengikuti arah pandangannya. Ternyata sedang adegan kanibal. Aku buru-buru mematikan filmnya sebelum Ayahku benar-benar menganggapku gila.
            “ Kenapa lampunya tidak dinyalakan?” tanya Ayahku, sambil menyalakan tombol lampu di dapur dan lantai atas.
            “ Aku lupa” aku mengakui dengan suara pelan.
            “ Sudah makan, Tya?” tanya Ana berjalan ke dapur dan membuka kulkas.
            “ Makan belum, tapi kalo ngemil sudah” kataku sambil membuang bungkus makanan yang berantakan di atas meja dan membuangnya.
            “ Bagaimana harimu disekolah?” tanya Ayahku.
            “ Menyenangkan” dustaku
            “ Kau bohong, Tya” kata Ayahku marah. “ Tadi wali kelasmu menelepon Ayah. Hari ini kamu tidak sekolah dan tidak memberikan kabar. Apa yang menyebabkan kamu membolos?”
            “ Ayah, meminta wali kelasku untuk mengawasiku?” sergahku marah.
            “ Itu yang biasa dilakukan orang tua terhadap anaknya” gerutu Ayahku.
            “ Hanya orang tuaku. Orang tua teman-temanku tidak seperti Ayah” gumamku.
            “ Itu karena mereka tidak perlu mengkhawatirkan anaknya yang sedang labil” balas Ayahku. Ia menatapku tajam.
            Aku mendesah. “ Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. aku tidak akan membolos dan membuat Ayah khawatir lagi” janjiku, diam-diam menyilangkan jari-jariku di bawah meja.
            “ Ayah tidak keberatan jika kamu tidak sekolah, tapi kamu harus kasih tau Ayah atau wali kelasmu”
            Aku mengangguk setuju.
            Setelah makan malam dan mandi. Aku berbaring ditempat tidur dan tertidur.
            Aku terbangun sambil menjerit sekeras-kerasnya. Aku hampir berharap Ayahku akan datang untuk mengecek keadaanku kali ini. Ini bukan jeritanku yang biasa. Kubenamkan kepalaku dibantal dan berusaha merendam jeritan histeris yang hampir keluar dari kerongkongan. Kutekan bantal kuat-kuat kewajahku.
            Tapi Ayahku tidak datang, dan akhirnya aku bisa juga meredam jeritan aneh yang keluar dari tenggorokanku.
            Aku bermimpi.. mimpi yang sangat berbeda dari biasanya. Aku bermimpi, aku sedang bermain basket sendirian, dan Yoga menghampiriku.. aku mengatakan sesuatu yang tidak kuingat. Tiba-tiba wajahnya sangat murung ketika aku berbalik menghadapnya. Ia melempar bola basket kearahku dan pergi menjauhiku. Aku berlari menyusulnya dan memanggiknya keras-keras. Tetapi ia tidak berbalik padaku dan terus berlari menjauhiku.
            Ketika sarapan pagi, Ayahku terus mengamati wajahku. Seperti yang ia lakukan setiap hari. Sampai kapan Ayahku memperlakukanku seperti ini? Bahkan Ana pun ikut-ikutan mengawasiku.
            “ Ayah…” aku memulai pembicaraan.
            “ Ada apa, Tya?” tanya Ayahku terkejut.
            “ Hari ini aku akan pulang telat. Aku ada acara dengan kenalan.. ia mengajakku makan dirumahnya dan aku sudah mengiyakan”
            “ Kenalan? Siapa? Ayah kenal?” tanya Ayahku mulai mengintrogasiku layaknya tersangka dalam pembunuhan.
            “ Tidak”
            Ayahku menjatuhkan garpunya.
            “ Tidak?” ia bertanya, kaget.
            Aku berpura-pura tidak memerhatikan reaksinya. “ Waktu aku jalan-jalan ke taman alun-alun, aku berkenalan dengan seorang pria, namanya om Roy. Kami mengobrol-ngobrol dan akhirnya menjadi akrab. Ia menceritakan tentang anaknya”
            “ Apa yang akan kau lakukan hari ini dengannya?” ia tidak mengambil garpunya lagi.
            “ Om Roy mengundangku kerumahnya untuk makan dan ia ingin memperkenalkanku dengan anaknya….Ayah?”
            Kelihatannya Ayahku mengalami penyempitan pembuluh darah. Aku memandanginya khawatir begitu juga Ana.
            “ Ayah, Ayah baik-baik saja?”
            “ Kau.. akan pergi dengan seorang om-om yang tidak Ayah kenal?” geram Ayahku.
            O-Oh “ Ayah akan mengenalnya hari ini”
            “ Hari ini?” serunya marah.
            Detik itu juga telepon berdering, melengking dan menuntut. Ana hendak meraih telepon, tapi aku langsung menginterupsinya biar aku saja. Ayahku masih memelototiku dengan garang.
            Kusambar ganggang teleponku. Dugaanku benar, om Roy lah yang menelepon. Ia ingin bicara dengan Ayahku. Kuberikan ganggang telepon pada Ayahku, dengan ragu-ragu Ayahku menerimanya.
            Aku tidak tau apa yang dikatakan Roy pada Ayahku. Tetapi, setelah beberapa menit wajah Ayahku berubah drastis menjadi ramah. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon yang tidak aku ketahui. Tetapi aku lega mengetahui sikap Ayahku yang bersahabat dengan Roy.
            Sesampainya di sekolah, Ali sudah menungguku di lapangan parkir. Ia khawatir mengapa aku tidak sekolah dan menanyakan alasanku mengapa teleponnya tidak diangkat-angkat olehku. Aku meminta maaf padanya selama jam sekolah. Aku benar-benar lupa memberitahunya karena Aku lebih memikirkan hal-hal yang mengusik dan menguras otakku.
            Setelah jam pelajaran selesai. Aku segera ke lapangan parkir dan melihat Roy yang sudah menungguku di mobilnya. Tanpa banya fikir aku langsung masuk ke mobilnya, tanpa mempedulikan tatapan terkejut Ali.
            Selama diperjalanan aku dan Roy berbincang-bincang santai. Ia mengatakan padaku bahwa anaknya sudah tidak sabar bertemu denganku dan ia juga memberitahuku bahwa anaknya telah putus dengan pacarnya. Tetapi, itu membuat keadaan anaknya semakin membaik.
            Mobilnya tiba-tiba berhenti. Aku mendongakkan kepalaku ke luar jendela. Ternyata kami sudah sampai. Roy membukakan pintu untukku sebelum aku keluar dari mobil. Ketika keluar, aku tercengang dengan sebuah rumah megah di depanku. Rumahnya sangat besar dan tampak luar biasa walaupun hanya dilihat dibagian luar.
            “ Wow”
            “ Kamu suka?” Roy tersenyum melihat ekspresiku yang terkagum-kagum.
            “ Rumah yang sangat indah dan besar,om” kataku tercekat.
            Kami berjalan menuju teras rumah dan membukakan pintu untukku.
            Bagian dalam rumah itu lebih mengejutkan lagi. sangat.. sangat luas dan mewah. Dinding-dindingnya seluruhnya terbuat dari kaca, lantainya seakan tertutup oleh permadani yang halus dan mahal. Ada beberapa lukisan di dinding yang tidak ku kenali, tapi aku yakin itu lukisan-lukisan asli yang tak ternilai harganya. Di sudut ruangan tersimpan rak buku yang berukuran sangat besar dan penuh berisi buku-buku tebal dan besar yang aku yakin, aku tidak akan mengerti isinya apa meski kubaca berulang kali. Tangga meliuk yang lebar mendominasi sisi barat ruangan. Dan di sisi kiri pintu, pada bagian lantai yang lebih tinggi terdapat grand piano yang luar biasa spektakuler.
            Mataku tertarik pada sebuah grand piano. Dulu, ketika Ibuku berulang tahun aku ingin sekali membelikan untuk Ibuku sebuah grand piano…. Namun, setelah aku menabung bertahun-tahun uangku tidak cukup membelinya. Aku sangat sedih, karena aku suka melihat Ibuku bermain piano. Dulu, ia sering bermain piano di rumah tetangga kami, yang berbaik hati memperbolehkan Ibuku bermain piano.
            Roy memperhatikan kesedihanku.
            “ Kamu bisa main piano?”
            Aku menggelengkan kepala. “ Tidak, aku tidak bisa bermain alat musik. Anda bisa bermain musik?”
            “ Tidak. Itu milik putraku.. dia pintar bermain piano” jelasnya. “ Kamu mau melihat ruangan lainnya di rumah ini?”
            Aku mengangguk.
            Kami menaiki anak tangga yang besar-besar, tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin.
            “ Ini ruang perpustakaan pribadi om… ruang kerja om… ruang olah raga… kamar tamu… “ ia menunjukannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. Namun langkahnya terhenti di depan pintu terakhir di lorong itu.
            “ Kamar anak saya” ia memberitahuku dan membuka pintu. Aku mengamati kamar itu dari luar dengan takjub.
            Sebelum aku bisa mengatakan sesuatu. Tiba-tiba HP Roy berbunyi. Ia mengangkatnya, dan berbicara pada seseorang dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti. Setelah selesai, ia menatap wajahku dengan ekspresi minta maaf.
            “ Maaf sekali, Tya.tiba-tiba om ditelepon bahwa om ditunggu untuk rapat mendadak yang sangat penting. Maaf ya, padahal kamu sudah datang. Kamu tunggu disini tidak apa-apa kan? Sebentar lagi anak om datang kok. Om rapat tidak akan terlalu lama” janjinya
            Sebenarnya aku ingin pulang. Tetapi hati kecilku menahannya, aku ingin bertemu dengan anaknya yang membuatku penasaran.
            Aku menengangguk sambil tersenyum kecil. Setelah ia membalas senyumku, ia meninggalkan aku.
            Lama sekali aku menatap kamar di depanku. Dengan berani aku pun masuk ke kamar itu.
            Kamarnya sangat luas, menghadap taman dengan jendela seluas dinding. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Di sudut ada satu set sound system yang tampakcanggih, jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Di tengah ruangan terdapat ranjang putih yang besar dan terlihat mahal yang sangat mengundang. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna abu-abu.
            Namun mataku tertumbuk pada beberapa foto di atas meja sebelah tempat tidur. Mataku membelalak lebar. Hati-hati aku mendekat dan mengambil sebuah figura foto.
            Fotoku.
            Mengapa bisa ada fotoku di rumah ini? Aku bahkan baru mengenal Roy. Aku sama sekali asing dengan rumah ini. Mengapa anaknya memiliki fotoku? Siapa sebenarnya dia?.
            Kepalaku mulai berputar-putar, darah mulai mengalir di wajahku. Aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh kamar ini. CD dan basket. Kebenaran mulai terbentuk di benakku. Namun aku masih ragu. Apa iya kamar ini kamar…. Yoga?
            Mataku kembali terfokus pada foto-fotoku yang di letakkan diatas meja yang elegan. Di sebelahnya terdapat kotak hitam kecil yang menarik perhatianku. Kuperhatikan kotak hitam kecil itu lama-lama.
            Tanganku yang gemetar meraih kotak itu. Permukaannya halus berlapis satin hitam. Kusapukan jemariku di atasnya. Ragu-ragu. Kuangkat sedikit penutup kotak dengan Ibu jari dan telunjuk dan mengangkat penutup kotak.
            Sebuah cincin khusus pasangan. Cincinnya di buat dari emas, halus dan mungil. Permukaannya lonjong panjang, dikelilingi barisan memanjang batu-batu berlian.
            Tanpa berpikir, aku membelai-belai permata yang berkilauan itu. Di dalam permukaan cincin emas itu, terdapat tulisan kecil dan elegan. Kulihat tulisan tersebut.
            Yoga & Anintya
            Namaku tertulis di cincin mahal itu. Aku terkejut. Kebenaranku sekarang tidak diragukan lagi. Yoga adalah putra dari Roy. Tetapi otakku belum bisa menemukan penjelasan yang sangat memusingkan ini. Mengapa ia depresi? Mengapa ia putus dengan Intan?. Jika iya itu karena aku, kenapa ia berbohong padaku.
            “ Siapa” suara yang sangat ku kenal baik di mimpi maupun di kenyataan mengagetkanku. Buru-buru aku menyimpan kembali kotak hitam di atas meja. Aku tetap mempertahankan posisi membalikkan tubuh dari suara indah itu. Aku tak berani menatap wajahnya. Wajah dan leherku merah padam karena terkejut, takut dan sedih.
            “ Kenapa kamu sembarangan masuk ke kamar orang?” teriaknya galak.
            Aku tak berani menyahut. Aku ketakutan hingga tanganku gemetar. Tubuhku membeku sehingga aku tidak bisa kabur dari ruangan itu. Pikiranku kosong. Yang hanya ku sadari aku begitu takut ketangkap basah. Aku mendengar langkahnya yang semakin mendekatiku.
            Ketika ia sampai dekat denganku. Kurasakan tangannya menyentuh pundakku dengan kasar. Lagi-lagi sentuhannya menyentuhku bagai aliran listrik yang menyengat. Aku membalikkan badanku dan pelan-pelan menatap wajahnya.
            Ia menunduk, menatapku dengan keterkejutan tanpa suara.
            “ Apa aku sedang bermimpi kau ada dikamarku?” ucapnya, suaranya yang tedengar takjub, sedikit geli. “ Atau karena aku benar-benar sudah gila?”
            “ Tidak” aku hanya mampu menggerakkan mulut tanpa bersuara.
            Yoga tampak terpesona. Tangannya membelai-belai pipiku lembut.
            Lagi-lagi rasanya seperti waktu ia terakhir menyentuhku. Ketika tangannya yang lembut menyentuh kulitku, rasanya benar-benar seperti ada aliran listrik. Seketika itu juga aku menginginkan lebih. Padahal saat ini aku merasa ketakutan, pusing dan kepalaku benar-benar berat. Tapi setelah ia menyentuhku aku merasa damai.
            Tetapi kepalaku benar-benar berat. Aku merasa sangat letih sekali mungkin karena tidurku selama beberapa bulan ini tidak nyenyak. Kepalaku terasa lepas dari tubuhku.
            Semuanya berubah gelap gulita.
            Pertama-tama aku sadar ada tangan yang hangat dan lembut menyentuhku, jari-jari membelai keningku dan menggenggam tanganku.
            Aku benar-benar merasa tidur lama sekali. Sekujur tubuhku kaku, seolah-olah aku tidak bergerak sama-sekali. Pikiranku linglung dan lamban. Berbagai mimpi aneh dan mimpi indah berbaur menjadi kebingungan yang memusingkan. Namun, ingatan yang masih terasa begitu kuat adalah kehadiran malaikat.
            Sesuatu yang hangat menyentuh dahiku.
            Kupejamkan mataku lebih rapat. Aku tak ingin cepat-cepat terbangun dan membiarkan sosok malaikat itu lenyap meninggalkan aku. Namun, aku merasakan genggaman tangan seseorang yang begitu kuat membuatku terpaksa membuka mataku yang berat.
            Pertama-tama yang kulihat adalah ruangan yang begitu luas dan mewah serta ranjang yang kugunakan begitu nyaman. Jelas ini bukan kamarku. Dan mataku tertumbuk pada seseorang berwajah tampan yang menggenggam tanganku erat-erat.
            Aku mengerjap dua kali, susah payah berusaha mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Kalau tidak salah, aku diajak berkunjung kerumah Roy.. lalu Roy meninggalkanku dan aku masuk ke kamar putranya. Putranya…….
            Pikiranku semakin jernih. Mataku terus memandang wajahnya. Kupandangi dia sambil mengingat-ingat.. dan aku merasakan rona merah yang tidak familier menjalari pipiku dengan lambat saat lambat laun aku menyadari Yoga ada bersamaku. Ia tersenyum lembut padaku.
            “ Ada apa, Tya? Kenapa kau tiba-tiba pingsan begitu melihatku? Apa aku seburuk itu?” senyum Yoga yang berumur singkat terlihat muram. “ Aku bisa mengerti jika kau muak melihatku hingga aku membuatmu pingsan”
            Aku meringis. “ Aku bukannya pingsan karena melihatmu, tapi aku hanya keletihan”
            Yoga mendesah.
            Aku memandang jendela. Ternyata di luar sudah gelap.
            “ Mungkin sebaiknya kau tidur” sarannya.
            “ Aku engga mau tidur. Aku harus mengatakan apa pada Ayahku? Pasti Ayahku cemas aku belum pulang” aku mengerutkan kening pada Yoga.
            “ Tenanglah. Ayahku sudah menelpon Ayahmu agar kau bisa menginap di sini semalam” kata Yoga, menenangkanku.
            “ Bagaimana mungkin Ayahku bisa segampang itu mengijinkanku menginap? Apalagi ia kan baru sekali mengobrol dengan Ayahmu. Ayahmu benar-benar hebat bisa menaklukan Ayahku”
            Yoga memutar bola matanya dan mengangkat bahu.
            “ Kenapa kau berbohong padaku Yoga? Kenapa kau putus dengan Intan? Bukankah kau sendiri yang bilang padaku bahwa kau mencintai dia?” tanyaku benar-benar ingin tau.
            Yoga ragu-ragu. Wajahnya tampak gelisah, tidak nyaman.
            “ Aku…..” Yoga menarik napas dalam-dalam. “ Aku benar-benar minta maaf padamu.. aku tau bahwa seharusnya aku tidak memiliki perasaan padamu. Aku bersumpah bahwa sudah beribu-ribu kali aku mencoba untuk berhenti memikirkanmu, tapi aku benar-benar tidak mampu. Bagimu mencintai sahabat sendiri mungkin adalah pengkhianatan yang benar-benar menjijikan, tapi perasaanku benar-benar diluar kemampuanku. Aku merasa muak dan membenci diriku karena telah menodai persahabatan kita karena perasaan terlarangku padamu..”
            “ Yoga” aku memotong perkataannya. Ia menatapku sedih. Mengucapkan namanya membuat tenggorokanku serasa terbakar. “ Kau merasa bersalah? Sudah kubilang kau sama sekali tidak bersalah, yang salah adalah aku..”
            Aku nyaris tak bisa menahan tangis. Aku berhenti untuk menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menenangkan diri.
            “ Anintya Natasya” bisik Yoga memanggil nama lengkapku, membuat jantungku berdebar-debar. “ Bukankah waktu kita masih SMP kau pernah mengatakan bahwa sahabat adalah sahabat, tidak boleh jatuh cinta.. jika jatuh cinta itu namanya pengkhianat”
            “ Kapan aku pernah mengatakan itu? Aku tidak ingat pernah mengatakan itu padamu”
            Yoga menatapku ragu beberapa saat sebelum menjawab.
            “ Kau tidak ingat? Kau pernah mengatakan itu ketika kita kelas 2 SMP di gymnasium”
            Tiba-tiba saja aku mengingatnya. Aku merasakan déjà vu yang begitu jelas. Seakan-akan kenangan ini di putar di sebuah bioskop.
            Aku ingat semuanya sekarang. Waktu itu aku sedang bermain basket di gymnasium sendirian sambil menunggu Yoga. Aku duduk di lantai sambil memainkan bola basket. Wajahku begitu gelisah dan murung, karena semalam aku baru menonton sinetron, yang diputar oleh Ayahku dan Ana ketika aku sedang mengerjakan PR di ruang depan. Film itu bercerita tentang seorang wanita yang jatuh cinta pada sahabatnya, padahal mereka telah berjanji untuk selamanya menjadi teman sejati. Tapi, ketika mereka beranjak dewasa si wanita jatuh cinta pada sahabatnya, dan akhirnya sahabatnya tidak ingin mereka berteman lagi karena telah mengkhianati perjanjian. Alhasil, persahabatan mereka hancur.
            “ Memangnya salah jatuh cinta pada sahabat sendiri?” renungku. “ Perasaan kan diluar kehendak kita. Memang sih.. sahabat adalah sahabat, tidak boleh saling mencintai karena akan menghancurkan persahabatan yang selama ini terjalin. Atau bisa di sebut pengkhianat!!..”
            Tiba-tiba saja terdengar benda yang tejatuh dengan suara nyaring. Aku cepat-cepat berbalik. Aku terkejut melihat wajah Yoga yang begitu tersiksa, seolah-olah ia memiliki masalah yang sangat gawat.
            “ Yoga, ada apa? kenapa?” tanyaku khawatir, aku maju menghampirinya namun ia malah mundur menjauhiku dan pergi meninggalkanku.
            Aku mengejarnya, namun ia berlari begitu cepat hingga aku tak sanggup menyusulnya. Aku kembali ke gymnasium sambil tersaruk-saruk. Aku menemukan benda yang dijatuhkan Yoga tadi. Sebuah foto. Aku mengambilnya dan memandang foto wanita cantik, aku membalikkan foto itu dan terdapat tulisan dengan tinta merah
            Ibuku tersayang.
            Kupikir, ia memiliki masalah dengan keluarganya. Mungkin ia merindukan Ibunya yang sudah meninggal. Tapi kenapa tiba-tiba ia pergi begitu melihatku?.
            Dari kejadian itulah Yoga mulai berubah. Ia mulai ramah terhadap wanita-wanita, bahkan mengajak mereka kencan tanpa malu. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah dekat dengan wanita kecuali denganku.
            Sesuatu menyumbat kerongkonganku, mencekikku. Aku berusaha menelannya, tapi benda itu tersangkut di sana, tak bergerak. Aku berusaha meludahkannya.
            “ Aku ingat” aku terkesiap.
            “ Maafkan aku.. aku memang benar-benar pengkhianat. Tetapi cintaku padamu benar-benar besar hingga aku sendiri tidak kuat menanggungnya” ia tersenyum sedih padaku.
            “ Aku…” kepalaku berputar sementara aku mencari-cari kata yang tepat. “ Bingung” Benar. Penjelasannya sungguh tidak masuk akal bagiku.
            Yoga menatap mataku dalam-dalam dengan tatapannya yang tulus dan bersungguh-sungguh. “ Sebelum aku mengenalmu, aku adalah anak yang pemurung, egois, pemarah dan pemberontak. Aku benci dunia ini karena telah merenggut nyawa Ibuku dan aku benci Ayahku yang selalu sibuk bekerja. Aku menghabiskan waktuku hanya sendirian.. sendirian.. hingga kau datang. Awalnya aku hanya berfikir kau gadis pindahan biasa yang sangat tidak menarik perhatianku. Tapi semua itu berubah ketika kau menghampiriku dan mengajakku bermain dengan gaya cuekmu
            “ Awalnya aku ingin menolak, tapi ketika aku melihat wajahmu.. dan matamu yang hitam dan indah, aku merasakan sesuatu berubah pada hatiku. Kau cuek pada banyak orang yang menyukaimu, kau tidak terpesona seperti perempuan-perempuan lain yang melihatku, kau tegar menghadapi orangtuamu yang bercerai dan hatimu yang lembut. Kau sangat menarik dan aku tersadar bahwa aku terpesona padamu.”
            Ia memejamkan mata, larut dalam pengakuannya. Aku mendengarkan, lebih antusias. Tertawan pada wajahnya yang begitu tampan.
            “ Waktu aku menyuruhmu menungguku di gymnasium, sebenarnya aku ingin kau mengenalku lebih jauh, mengenal keluargaku dan Ibuku. Tapi, ketika aku sampai ke gymnasium tak sengaja aku mendengarmu bicara sendiri, kau mengatakan seperti yang aku katakan tadi. Hatiku benar-benar sakit” Yoga meringis. “perkataanmu benar-benar menyakitkan”
            Ia terdiam sebentar, sementara aku menatapnya. Menunggunya.
            “ Selama 2 hari aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku takut kau membenciku jika kau tau bagaimana sebenarnya perasaanku padamu. Aku memutuskan untuk berusaha tidak memikirkanmu. Namun, semakin aku ingin melupakanmu, aku semakin memikirkanmu, mencintaimu. Aku bingung, bagaimana caranya supaya aku tidak menyukaimu terus.
            “ Besoknya aku mencoba membuka diriku terhadap wanita lain dan akhirnya aku bertemu dengan Intan. Intan menarik perhatianku, ia menyenangkan dan wanita yang gigih. Ia tidak menyerah, padahal sudah berkali-kali aku menolaknya. Tapi, ketika setiap hari aku harus melihatmu bersama Ali, membuatku kesal dan benci padamu karena kau tidak menyadari perasaanku yang begitu sakit ketika kau dan Ali bersama-sama atau ketika kalian saling bersentuhan. Akhirnya aku menerima cinta Intan, berharap ia dapat membuatku lupa padamu. Tapi, aku benar-benar tidak bisa.. setiap aku dan Intan berciuman atau bersentuhan aku selalu membayangkan itu adalah kau.”
            “ Kau tidak mencintai Intan” bisikku dari sela-sela bibir yang tidak bergerak.
            “ Tidak. Aku sadar jika aku hanya bisa mencintaimu, selalu mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Aku memikirkanmu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik selama kita berpisah “
            “ Kau tidak mencintai intan” kataku. Berusaha mematikan bahwa pendengaranku tidak salah.
            “ Tidak” katanya lebih keras dan lantang.
            Aku menatap wajahnya yang begitu rupawan. Hatiku benar-benar diliputi kebahagiaan. Akhirnya aku mengetahui bahwa ia mencintaiku seperti aku mencintainya.
            “ Yoga!!” isakku dan aku menangis. Aku memeluk lehernya. Sedetik ia membeku, dan dengan ragu-ragu ia membelai punggungku dengan tepukan lembut.
            “ Ada apa?” tanya Yoga cemas.
            “ Aku bahagia.. sangat bahagia!! Aku bahagia mengetahui kau mencintaiku”
            “ Bahagia? Kau tidak marah padaku?” tanyanya menarikku untuk memandang wajahku.
            “ Ini semua hanya salah paham. Yang kau dengar waktu itu, itu hanyalah sebuah cerita sinetron yang Ayahku tonton setiap malam. Aku mengingatnya karena aku merasa ceritanya sama dengan kisah kita. Aku mencintaimu, tapi aku takut kau hanya menganggapku sahabat. Sekarang semuanya menjadi jelas” kataku memeluk lehernya erat-erat.
            “ Benarkah kau mencintaiku?”
            Aku mengangguk. Ia menarik tubuhku lagi dan menatapku dalam-dalam. Aku tersentak melihat wajahnya yang begitu serius dan sangat tampan. Matanya yang serius berubah menjadi sorot lembut dan berbinar-binar. Ia adalah Yogaku yang kurindukan.
            Ia membelai pipiku dengan lembut, aku merasa wajahku semakin memanas dan merasakan aliran listrik yang semakin menyengat. Ku beranikan untuk menyentuh wajahnya, sesuatu yang selalu kuinginkan sejak pertama kali kami bertemu.
            Aku membelai pipinya, dengan lembut mengusap kelopak matanya, bayangan hitam dibawah matanya sama sepertiku. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna, kemudian, dengan sangat hati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. Bibirnya membuka di bawah tanganku, dan aku merasakan hembusan napasnya yang sejuk dijemariku. Ia tersenyum dan memelukku lagi.
            Aku menariknya ke atas ranjang dan mendekap dadanya erat-erat. Ia kemudian mulai menciumiku dari rambutku, keningku, pipiku, daguku, leherku dan berhenti di sudut mulutku. Ia menatap wajahku. Aku membalas menatapnya. Matanya yang coklat begitu dalam hingga aku membayangkan bisa memandang jauh kedalamnya. Ia memiliki wajah yang sangat tampan dan hatinya yang lembut. Sosok sempurna ini kini menjadi milikku.
            Aku mengangkat tanganku ke pipinya dan kudekatkan wajahnya dengan wajahku sehingga bibirku bisa menempel dengan bibirnya.
            “ Bagaimana rasanya?” tanyanya sambil terkekeh.
            Aku hanya tersenyum dan menciumnya lagi. dengan perlahan aku membuka mulutku. Kuremas rambutnya dan ketempelkan tubuhku dengannya. Ia membalas ciumanku, tangannya pun meremas rambutku dan menarikku lebih dekat.
            Lidahnya yang hangat menjelajahi lekuk bibirku dengan lembut.
            Kepalaku berputar cepat, napasku memburu, pendek-pendek. Ia melepaskan tangannya dan mendekapku erat-erat di dadanya.
            “ Sudah malam.. tidurlah” katanya nyaris membujuk.
            “ Aku tidak mau tidur.. aku takut ini hanya mimpi” kataku tegas dan menggelengkan kepala didadanya.
            “ Kalau kau tidak mau tidur, aku akan pergi ke kamar sebelah” ancamnya.
            “ Baiklah.. “ gerutuku menyerah. Aku semakin mendekatkan diriku padanya dan memeluknya erat-erat. Aku menghembuskan napas bahagia.
            Sinar matahari yang cerah akhirnya membangunkanku. Aku berbaring, lengan menutupi mata, mengantuk dan pusing. Sesuatu, sebuah mimpi yang coba kuingat, mencoba masuk ke dalam kesadaranku. Aku mengerang dan berguling ke sisi, berharap bisa tertidur lagi.. lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku.
            “ Oh!” aku terbangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing.
            “ Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami.. tapi aku menyukainya” suaranya yang tenang terdengar dari sofa seberang ranjang ini.
            “ Yoga!!!” aku berseru gembira, dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Begitu aku menyadari apa yang aku lakukan, aku membeku, terkejut karena semangatku yang menggebu. Aku menatapnya, khawatir tindakanku telah melewati batas.
            Tapi ia tertawa.
            “ Ada apa?” jawabnya kaget, tapi kelihatannya senang melihat reaksiku. Tangannya mengusap-usap punggungku.
            Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya, menghirup aroma kulitnya.
            “ Aku yakin sedang bermimpi”
            “ Kau tidak kreatif” dengusnya.
            “ Ayahku? Aku harus pulang” aku teringat, tanpa berpikir melompat menuju pintu.
            “ Bagaimana kalau kau sarapan disini?” tawarnya. Ia merentangkan tangannya untuk menyambutku. Undangan yang nyaris tidak sanggup ku tolak.
            “ Aku lebih baik pulang sekarang. Aku akan sarapan dirumah”
            Ia berdiri dan mengulurkan tangan padaku, gerakan yang tak kusangka-sangka. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar aku tak menyentuhnya. Kugenggam tangannya yang hangat. Kami keluar dari kamarnya dan menuju mobilnya.
            Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya dengan wajar, meskipun ia nyaris tidak melihat jalanan. Ia mengemudi dengan satu tangan, tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandar di kursi. Kadang-kadang ia memandangku, wajahku dan tangan kami yang bertaut.
            Ia menyetel lagu barat yang tidak ku kenali dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah aku dengar. Ia hafal setiap barisnya.
            “ Ayahmu mana?” tanyaku
            “ Kerja. Tadi waktu kamu masih tidur, ia mau pamitan denganmu. Tapi, kamu tidur sangat pulas, jadi ia tidak tega membangunkanmu” jelasnya.
            “ O…”
            “ Apa lagi yang mau kamu tanya?” kata Yoga
            Keningku berkerut. “ Kamu hebat”
            “ Kita ini sudah berteman lebih dari 3 tahun dan aku banyak berlatih membaca wajahmu. Tanyakan padaku”
            “ Mmmm…. Waktu aku ke kamarmu, aku menemukan cincin di atas mejadan cincin itu tertulis namaku dan namamu. Bukankah kau membelikan cincin untuk Intan?” tanyaku ragu-ragu.
            Ia mendesah, kemudian menatap mataku, seolah-olah benar-benar melupakan jalan beberapa saat. Ia melihat ke depan.. lalu berkata.
            “ Itu bohong.. aku tidak pernah membelikan atau membuat cincin untuk Intan agar membuatmu cemburu” ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. Dengan hati-hati kujaga wajahku tetap tenang, sabar menantikan penjelasan selanjutnya. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. “ Waktu liburan kelas 2 SMA, aku berlibur ke paris. Aku berjalan-jalan sendirian dan tidak sengaja aku melihat cincin yang sangat bagus untuk pasangan, lalu aku teringat….. padamu. Akhirnya atas berbagai pertimbangan aku memesan cincin itu. Ketika aku kembali kemari dan aku membicarakan Intan, kau sama sekali tidak terlihat cemburu. Aku marah sekali namun aku tidak berani menunjukkannya padamu. Secara reflex aku mengatakan bahwa aku membelikan cincin untuk Intan”
            Tidak terlihat cemburu? Apa aku memang pintar ber acting? Padahal ketika ia mengatakan akan membelikan Intan cincin hatiku seperti terbakar cemburu, aku sangat marah dan kesal. Tentu saja perasaan itu kutekan dan akhirnya ketika pulang aku marah-marah sendiri dan melampiaskannya dengan bermain basket sendirian selama 6 jam. Bahkan Ayahku menemukanku dalam keadaan pingsan.
            Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. “ Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku. Aku bahkan hanya berani memimpikannya setiap tidur”
            “ Aku juga. Aku sudah sejak dulu menyukaimu tapi aku tidak mau terlalu berharap kau membalas perasaanku. Tapi, aku pernah sempat berpikir kau menyukaiku juga. Hanya saja aku pikir itu imajinasiku”
            “ Aku juga berpikir kau sebenarnya menyukaiku, tapi pemikiran itu langsung hilang ketika kau bersama Ali. Kau selalu senang bertemu Ali, selalu tertawa lepas, bahkan aku sering melihat kalian bergandengan tangan. Melihat itu perasaanku begitu sakit. Di dalam hati aku selalu betrtanya-tanya apa tidak ada harapan untukku. Apakah aku kuat melihat kalian selalu bersama” geramnya.
            “ Aku juga seperti itu, hatiku benar-benar sedih mendengar kau selalu membicarakan Intan. Apalagi ketika setiap saat melihat kalian berciuman. Tidak taukah kau bagaimana perasaanku? Ketika aku harus dituntut untuk tersenyum mendukungmu. Rasanya aku pecah berkeping-keping” tanganku mulai gemetar, mengingat kejadian dulu. Yoga menggenggam tanganku semakin erat.
            Kami telah sampai di depan rumahku sekarang, dan ia mematikan mesin mobilnya. Suasana sangat tenang. Rumahku terlihat kosong dan mobil Ayahku tidak ada, jadi aku tau Ayahku dan Ana sudah berangkat kerja.
            “ Ayahmu sudah pergi, ya? Padahal aku berniat untuk menemuinya”
            “ Menemuinya? Untuk apa?”
            “ Meminta izin berpacaran denganmu” jawabnya polos. Ia kemudian memandang rumahku lalu kembali menatapku. “ Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya
            “ Kau mau?” aku tak bisa membayangkan, makhluk tampan dan sempurna ini masuk ke rumahku yang sangat sederhana.
            “ Ya. Kalau tidak merepotkan” aku mendengar pintunya menutup pelan, dan ia berjalan ke samping pintuku, membukakannya untukku.
            “ Terima kasih” ucapku malu-malu. Ia nyengir melihat reaksiku.
            Ia berjalan di sisiku, begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih bersamaku.
            Aku memasukkan kunci kenop, ketika aku mau memutar kenop pintu. Yoga dengan cepat menggenggam tanganku dan membukakan pintu untukku. Ia tersenyum ketika melihatku meringis dan langsung melepas tangannya di tanganku.
            Aku menyusuri lorong menuju dapur. Ia duduk dimkursi makan. Ketampanannya membuat dapurku menjadi bersinar-sinar. Lama baru aku bisa berpaling.
            Aku berkonsentrasi menyiapkan sarapanku, membuat sereal. Setelah selesai aku menaruh serealku di atas meja dan duduk di depannya.
            “ Kau mau?” tawarku. Aku tidak ingin bersikap tidak sopan.
            Ia memutar bola matanya sambil terkekeh. “ Aku sudah sarapan ketika kau masih tidur”
            Aku mulai menyuap sereal sambil memperhatikannya. Ia memandangiku cukup lama dan itu membuatku tidak nyaman. Aku berdeham untuk bicara, mengalihkan perhatiannya.
            “ Apa acara hari ini? Sekolah sedang libur kan!” kataku.
            “ Hmmm…” aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. “ Bagaimana menurutmu kalau kita ke café Ryan?”
            Aku menelan air liurku.
            “ Kenapa?” tanyanya cemas.
            “ Tidak. Kau akan mengatakan padanya tentang hubungan kita?”
            “ Kalau kau tidak keberatan”
            “ Aku tidak keberatan” kataku bersungguh-sungguh.
            Ia bediri di tengah dapur, mirip patung, menerawang ke luar jendela belakang.
            “ Kau harus segera mengenalkanku pada Ayahmu”
            “ Ayahku sudah mengenalmu” aku mengingatkannya.
            “ Maksudku sebagai pacarmu”
            Aku menatapnya curiga. “ Kenapa?”
            “ Bukankah begitu kebiasaanya?” tanyanya polos.
            “ Aku tidak tau, aku kan belum pernah berpacaran” aku mengakui malu-malu.
            Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk, menggigit bibir.
            “ Kau akan memberitahu Ayahmu kan bahwa aku pacarmu atau tidak?” desaknya. Ia meraih ke seberang meja mengangkat daguku dengan jarinya yang hangat dan lembut. “ Aku tidak ingin Ayahmu melarangku untuk sering-sering datang kesini. Aku akan selalu bersamamu dan menginginkanmu”
            “ Aku juga akan selalu menginginkanmu” aku mengingatkannya. “ Selamanya”
            Perlahan ia mengelilingi meja, setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah, mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. Ekspresinya penuh makna.
            “ Ada apa?” tanyaku.
            Ia tidak menyahut. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku.
            “ Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya
 Aku melompat berdiri. “ Ya”
            “ Cepat siap-siap… aku akan menunggumu disini”
            Aku langsung bergegas ke kamarku mengambil tas perlengkapan mandiku dan mengambil satu setel pakaian bersih. Perasaanku benar-benar bahagia, bahkan ketika mandi aku bernyanyi-nyanyi dengan suara keras. Sulit dipercaya kekasih idamanku telah menjadi milikku dan kini ia menungguku di bawah..
            Sambil berlari kecil aku menuruni tangga, ingin cepat bertemu dengannya. Ia menunggu di ujung tangga, lebih dekat dari yang kukira dan aku langsung menghambur ke arahnya. Aku meraih tangannya dan menggenggam tangannya erat-erat. Ia menuntunku menuju mobilnya.
            Akhirnya kami sampai di café. Aku ingat, terakhir kali kesini perasaanku sangat bertolak belakang dengan perasaanku sekarang. Waktu itu, perasaanku sungguh tertekan karena aku harus menghadapi Yoga dan Intan. Tapi sekarang, aku benar-benar bahagia karena perasaanku yang dulu menyakitiku telah hilang begitu saja.
            Kami masuk ke café unik itu sambil bergandengan tangan. Ryan menyambut kami. Bahkan Sarah, Arsa, Tomy terkejut melihat kami bersama dan melihat tangan kami yang bertaut. Mereka semua memelukku lama sekali.
            “ Mana Ali?” tanyaku. Biasanya Ali tidak pernah melewatkan waktu untuk kumpul bersama-sama dengan kami.
            “ Entahlah. Aku telepon ke HP nya tidak di angkat-angkat” jawab Arsa.
            “ Jadi, kalian bersama nih sekarang?” tanya Tommy, nadanya terdengar tidak suka.
            “ Iya, kini kami bersama dan akan selalu bersama” jawab Yoga lantang sambil merangkul bahuku.
            Akhirnya kami menghabiskan waktu cukup lama di café. Yoga terus saja merangkul bahuku dan tidak pernah melepaskannya, aku juga menggenggam tangannya di bawah meja. Aku berharap kami bisa selalu seperti ini selamanya. Aku tidak ingin kehilangannya dan aku sangat menginginkannya seutuhnya.
            Gerimis baru saja mulai ketika Yoga berbelok menuju jalanan rumahku. Ketika sampai di depan rumah, aku melihat mobil Ayahku terparkir di halaman rumah. Yoga tersenyum lebar melihat Ayahku sudah pulang. Ia mengambil paying dari bagasi mobilnya, membukakan pintu untukku dan kami berjalan menuju rumah sambil berdekapan.
            “ Kau siap mengenalkan pacar barumu pada Ayahmu?” ia tersenyum lebar, memamerkan seluruh giginya, ketika kami sampai di ambang pintu.
            Aku mengerang.
            Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. “ Aku menunggumu di sini. Sebaiknya, kau bicara dulu dengan Ayahmu” katanya. Ia mencium keningku sekilas. Jantungku melompat tak karuan, dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
            “ Hai Ayah!!” sapaku pada Ayahku ketika sampai di ruang depan.
            “ Halo sayang. Bagaimana acara menginapnya?” tanya Ayahku terkejut melihat wajahku yang berseri-seri.
            “ Sangat menyenangkan. Ayah tidak marah aku tidak pulang kemarin?” tanyaku. Aku tidak mengerti mengapa Ayahku sama sekali tidak marah aku menginap di rumah orang yang tidak begitu dikenalnya, padahal dari dulu Ayahku sering marah jika aku pulang malam apalagi menginap.
            “ Tidak” jawabnya santai.
            “ Kenapa tidak?” tanyaku tidak percaya.
            “ Karena, Ayah percaya dengan Roy.. sudahlah sayang, jangan membahas topik ini. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan hari ini?”
            “ Ayah.. aku mau minta maaf. Aku minta maaf atas semua yang kulakukan terhadap Ayah. Aku tau selama yang terjadi selama beberapa bulan ini, Ayah selalu mendesaakku untuk kembali ke Amerika dan tinggal bersama Ibu” aku menundukkan kepala dan meraih tangan Ayahku. “ Aku tidak ingin keluar dari rumah ini Ayah, aku sayang pada Ayah. Aku tau Ayah sangat khawatir, tapi Ayah harus percaya padaku kali ini jika semuanya baik-baik saja…”
            “ Ayah tidak mengerti sayang” kata Ayahku bingung.
            “ Ayah, aku dan Yoga kini bersama. Ayah, Yoga adalah putra Roy. Kemarin aku mendapatkan kejelasan”
            “ Ayah sudah tau kalo Yoga adalah putra Roy” kata Ayahku santai.
            “ Tau darimana, Ayah?” tanyaku terkesiap.
            “ Itu tidak penting. Jadi, kau dan Yoga……. Well, Ayah senang jika kau bahagia sekarang sayang, jangan melakukan seperti ini lagi pada Ayah dan Ana” kata Ayahku memelukku.
            “ Maafkan aku Ayah” gumamku sambil melepaskan pelukan Ayahku. “ Dia ingin bertemu dengan Ayah… sekarang”
            “ Sekarang? Untuk apa?”
            “ Entahlah” jawabku polos.
            Aku langsung kembali ke pintu dan membukakan pintu. Ternyata, hujan semakin deras. Yoga berdiri dibawah bias lampu teras, tampak seperti model iklan.
            “ Ayo masuk” kataku menariknya masuk kedalam dan menemui Ayahku. Ayahku tersenyum lebar ketika melihat Yoga.
            “ Silahkan duduk Yoga”
            “ Terima kasih, om”
            Aku meringis.
            Yoga duduk dengan luwes di kursi satu dudukan, memaksaku duduk di sofa, di sebelah Ayahku. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya.
            “ Bagaimana kabarmu Yoga?” tanya Ayahku ramah.
            “ Baik, om.”
            “ Jadi, kata Tya kau ingin bicara padaku. Apa yang ingin kau bicarakan padaku?”
            “ Saya ingin meminta izin untuk berpacaran dengan, Tya. Saya berjanji akan menjaga Tya karena itu berikan Tya pada saya, om”
            Aku terkejut dengan perkataannya yang sungguh-sungguh. Hatiku terpesona dengan dirinya. Aku merasa dunia ini begitu indah, berbeda dengan sebelumnya dunia begitu kelam dan menyakitkan.
            Alis Ayahku terangkat sebelah, memandangiku selama semenit, lalu kembali memandang wajah Yoga. Ia sepertinya tengah berpikir keras. Aku menangkap matanya memandang tanganku dan tangan Yoga yang saling bertaut. Aku mendesah, Yoga meremas tanganku.
            “ Ok. Aku izinkan kalian berpacaran. Tapi ingat, kalian harus ingat batasan” kata Ayahku akhirnya, setelah berada dalam situasi keheningan beberapa menit.
            Aku mengembuskan napas dalam-dalam.
            “ Terima kasih, Om.” Ucap Yoga penuh rasa hormat dan tulus terhadap Ayahku.
            Hampir semuanya kembali normal seperti sebelum masa itu, ketika aku bersikap seperti seseorang yang kurang waras dan seperti mayat hidup. Yang berbeda hanyalah hubunganku dengan Yoga. Kini kami telah menjadi sepasang kekasih, aku dan Yoga selalu bersama-sama, tak terpisahkan. Dan sekarang ini kami sibuk menghadapi ujian kelulusan dan kuliah. Aku berencana mendaftar kuliah di UPI, namun aku belum tau Yoga akan berencana kuliah dimana. Karena, setiap kutanyakan hal itu ia tidak pernah menjawab dan hanya tersenyum.
Namun, hatiku mengalami kegelisahan mendalam. Semenjak Yoga resmi menjadi kekasihku, Ali menghindariku. Bahkan, ia pindah tempat duduk dan memilih bangku yang jauh dariku, ia juga tidak ingin berbicara denganku setiap aku mencoba mengajaknya ngobrol. Ia bahkan tidak mau menerima teleponku.
            Aku selalu menelpon Ali malam-malam setiap Yoga pulang dari rumahku. Aku sengaja memilih waktu itu, karena aku merasakan Yoga sangat tidak suka jika aku membicarakan tentang Ali, padahal dulunya ia dan Ali adalah sahabat. Jadi, aku jarang menyebut-nyebut nama Ali.
            Dengan Yoga di dekatku, sulit memikirkan hal-hal yang tidak membahagiakan, bahkan memikirkan mantan sahabatku, yang saat ini mungkin sedang sangat tidak bahagia, gara-gara aku. Kalaupun aku memikirkam Ali, aku selalu merasa bersalah karena tidak terlalu sering memikirkan dia.
            Kini aku sangat bahagia. Aku memiliki Yoga. Kami saling mencintai. Tapi, apakah kisah ini akan berakhir bahagia untuk dia?
            Masa ujian telah lewat, kami menunggu hari kelulusan, sehingga kami sama sekali tidak memiliki kegiatan di sekolah. Selama berminggu-minggu Ali masih saja tidak mau menerima telepon dariku. Hal itu membuatku khawatir.
            Apakah ia benar-benar akan menghilang dari hidupku sekarang ini??
6 tahun kemudian
            Hidupku saat ini begitu indah, seperti sebuah puzzle yang pecah dan tersusun kembali menjadi rangkaian gambar yang rapi!! Namun, ada satu kepingan yang hilang begitu saja dan sulit kutemukan kembali kepingan itu.
            Kini setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah di Universitas terkemuka dan mengambil jurusan sastra, sedangkan Yoga melanjutkan kuliah jurusan kedokteran. Hubungan kami semakin erat dan mesra, 3 bulan sekali kami mengunjungi Ibuku di Amerika. Sarah dan Rian sudah menikah, mereka merencanakan mengadakan pernikahan setelah lulus SMA,bahkan sekarang ini Sarah sedang mengandung 4 bulan dan yang paling mengejutkan kini Intan tengah menjalin kasih dengan Arsa, sesuatu yang diluar dugaanku. Aku tidak tau bagaimana mereka bisa berpacaran, hanya saja setelah putus dengan Yoga, Intan ikut klub seni dimana Arsa juga bergabung dalam klub itu, mereka menjadi akrab dan akhirnya berpacaran. Ayahku masih protektif terhadapku, namun ia begitu mempercayaiku pada Yoga dan mengharapkan kami cepat menikah yang langsung kualihkan topic pembeicaraan sensitive itu yang membuat Ayahku, Yoga dan Ana mengerutkan kening padaku.
            Bukannya aku tidak mencintai Yoga sehingga tidak berniat menikah, namun aku memang belum siap berkomitmen sejauh itu dengannya meskipun aku begitu sangat mencintainya. Selain itu aku masih memikirkan Ali.. sahabatku… hingga saat ini aku masih belum bisa mengetahui kabarnya, ia sudah menghilang selama 3 tahun. Aku sering mengunjungi rumahnya diam-diam, meskipun sekarang rumah itu sudah tidak dihuni oleh siapapun. Aku begitu merindukannya, berharap dia kembali ke sisiku dan ikut bahagia bersamaku.
            Setelah penantian begitu lama, akhirnya hari yang kutunggu datang juga. Ketika aku sedang diam sendiri di rumah tiba-tiba saja datang tukang pos dan memberikan surat untukku. Ketika aku melihat nama pengirimnya, ternyata dari Ali. Cepat-cepat aku membuka surat itu.
                                                                                                Dear,
                                                                                                                        Tya tersayang
            Tya.. sahabatku.. cintaku.. mungkin sekarang ini kau bingung mengenai kabarku dan mengapa aku pergi begitu saja tanpa memberitahu apapun padamu. Sesungguhnya aku benar-benar minta maaf padamu.. mengucapkan perpisahan langsung denganmu membuatku tak mampu berkata-kata.
            Aku tau sekarang ini kau sangat bahagia, dan aku merasakan apapun yang kau rasakan meskipun kita terpisah jarak, karena kita memiliki sebuah ikatan, yang orang lain bahkan kita sendiri sulit memahaminya.
            Aku kini berada di Singapur, aku memutuskan  untuk tinggal disini dan membantu perusahaan Ayahku. Ayahku membutuhkanku dan aku tidak bisa menolaknya. Dan jika aku semakin dekat denganmu, mungkin aku tidak akan bisa menahan diri untuk merebut cintamu dengan cara yang bahkan tidak kau sangka. Makanya, dengan berat hati aku memutuskan untuk pergi dan keluar dari duniamu. Namun, asal kau tau meskipun aku keluar dari duniamu tetapi kau akan tetap slalu berada di duniaku.
            Aku mencintaimu Tya.. sangat mencintaimu.. sejak dulu dan selamanya, bagiku kau tidak tergantikan. Aku selalu berharap bahwa kau akan menerima cintaku dan menjadi istriku, namun aku tau itu tidak akan terjadi, dihatimu selalu akan menjadi miliknya dan aku hanya akan menjadi separuh jiwamu.
            Kini aku telah menikah dan memiliki Istri dan Anak perempuan. Istriku seorang gadis baik dan mirip denganmu, namun tetap kau tidak tergantikan.. hatiku hanya tetap milikmu!! Tapi aku bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang ini. Anakku ku beri nama Tya, namamu.. karna aku berharap anakku memiliki kegigihan dan ketegaran seperti dirimu yang sangat aku kagumi.
            Aku mencintaimu dan sangat merindukanmu Tya.. aku berharap dikehidupan kelak, aku lah yang akan menjadi jodohmu dan menguraikan kisah indah bersamamu.

Salam sayang,

                                                                                                                        Ali
            Aku menangis membaca surat dari Ali, aku tak tau lagi harus bagaimana. Hatiku paling dalam merindukannya sangat dan berharap kami akan berjodoh dikehidupan kelak, sebagaimana yang diharapkan Ali. Namun, Aku tau baik kehidupan sekarang maupun nanti selalu ada Yoga dalam hidupku dan nafasku. Bagiku Yoga sudah menjadi udara dan akan selalu menjadi udara bagiku.
            Ketika ku ambil amplop itu, tiba-tiba saja sebuah kertas terjatuh. Ketika aku meraihnya ternyata sebuah foto. Aku terkejut menatap foto itu, foto Ali bersama seorang gadis dan seorang bayi. Ali tersenyum begitu manis dan tampan, Ia merangkul gadis cantik, Istrinya yang sangat mirip aku!! Gadis itu menggedong seorang bayi mungil dan tersenyum begitu lembut. Aku tau Ali kini sangat bahagia dan meskipun ia tidak menuliskan perasaannya pada Istrinya, tapi aku tau dia mencintai istrinya.
            Aku tersenyum menatap foto itu, dan kusimpan surat berserta foto itu didalam laciku. Aku mendesah dan termenung dekat jendela. Memikirkan keeping puzzle yang tidak lengkap itu, dan detik itupun aku tersadar ternyata puzzle itu tidak lengkap karena aku. Karena aku belum memperoleh tempat bahagiaku bersama Yoga. Aku menyadari kebodohanku dan menatap seseorang di halaman rumahku, bersandar pada dinding dan memandangku sambil tersenyum.
            Yoga… menatapku penuh dengan cinta, tanpa banyak berpikir aku keluar dari kamar dan berlari kehalaman, langsung memeluknya dengan erat. Yoga sedikit terkejut, namun membalas pelukanku sambil tertawa geli. Kulepas pelukanku dan mencium kedua pipinya dan bibirnya sekilas, ia memandangku terheran-heran.
            “ Tawaran itu masih berlaku?” tanya sambil tersenyum misterius.
            Ia mengerutkan kening.
            “ Mm.. aku punya banyak waktu sekarang ini, bagaimana? Mau menikah?” kataku pura-pura berpikir keras.
            Ia terkejut dan langsung merengkuh pipiku, dipaksanya aku menatap matanya.
            “ Benarkah??” tanyanya denga pelan dan serius, sorot matanya begitu tajam, membuatku seakan-akan terbakar.
            Aku mengangguk.
            Ia menciumku dengan antusias dan kebahagiaan yang tak tertahankan. Akhirnya hidupku bahagia dan puzzle itu kini telah sempurna. Tidak akan ada kata tamat dalam kisahku karena aku berharap tidak akan ada yang berakhir dalam hidupku, karena aku akan selalu mengharapkan lebih.

Tamat.

1 komentar: